Tampilkan postingan dengan label Visi - Misi Pelayanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Visi - Misi Pelayanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 September 2012

MENJANGKAU YANG TERABAIKAN


MENJANGKAU YANG TERABAIKAN
                               

Amanat agung  merupakan tugas mulia. Sebuah priveledge, kepercayaan yang istimewa  yang diamanatkan oleh Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja. Penugasan itu sangat jelas, sering  disebut the great commission  (amanat agung) bukan sebuah  great suggestion (saran agung) bagi gereja-Nya. Amanat agung sebuat “keharusan”, senang atau tidak senang, itu adalah perintah Tuhan, sedangkan “saran” boleh dilakukan boleh tidak. Tuhan Yesus berdoa: “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka” (Yoh.17:18).  Kemudian, Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku …” (Mat.28: 18-20).

Siapakah yang terabaikan itu?

Berdasarkan Matius 28: 19, bahwa sasaran utama dari amanat agung adalah menjadikan semua bangsa murid Kristus. Perhatian gereja mesti diarahkan kepada proyek yang besar ini, yakni “menjadikan murid”. Murid yang berasal dari semua bangsa (ethne) atau semua suku-suku bangsa yang ada di dunia ini. Menurut penelitian, ternyata masih terdapat kurang lebih 6.900 suku yang masih terabaikan (Sumber: Buku Materi Kairos Course). Suatu jumlah yang masih signifikan. Mereka berada di belahan dunia ini yang terserak di berbagai benua dan pulau-pulau. Mereka yang terabaikan berada di berbagai Negara-negara yang tertutup bagi Injil. Sebagian besar suku-suku terabaikan juga merupakan kelompok-kelompok yang paling miskin dan tertindas di dunia. Tidak sedikit dari mereka merupakan korban perbudakan, peperangan, bencana alam, kelaparan karena perekonomian yang buruk, juga korban PHK dari berbagai perusahaan. Kelompok terabaikan bukan saja mereka yang berada di daerah pedalaman yang sulit akses informasi dan komunikasi, namun juga banyak yang berada di kota-kota besar pengaruh urbanisasi. Banyak penduduk yang berbondong-bondong ke kota besar dengan harapan mendapat hidup yang lebih baik, tetapi realitanya banyak di antara mereka akhirnya menjadi komunitas yang terisolasi, jauh dari jangkauan kemakmuran. Pemerintah menggusur mereka dengan alasan penertiban tata kota, para pejabat dan orang-orang kaya melewati sambil menutup hidung, namun yang tidak kalah ironis, gereja juga sering lewat sambil menutup mata. Mereka sungguh terabaikan. Masihkah ada harapan bagi mereka?

Siapa yang mau menjangkau ?

Siapa yang terbeban, siapa yang mau pergi menjalankan misi Tuhan? Berkaitan dengan pemberitaan Injil, seringkali banyak orang berpikir bahwa itu adalah tugas misionaris, penginjil dan pendeta. Mungkinkah kita menutup mata hati kita dan berkata, ku ingin tetap di sini menikmati baitMu. Banyak orang yang sulit meninggalkan zona kenyamannya. Memang Tuhan memang mengundang jemaat untuk datang kepadaNya, tetapi Tuhan juga menantang jemaat untuk pergi bagi Dia, demi kemuliaanNya. Ingatlah bahwa hati Yesus ada pada orang-orang yang terhilang atau orang yang tak terjangkau. Bagaimana dengan anda, peran apa yang anda akan lakukan?

Sabtu, 15 Oktober 2011

BLESSED TO BE A BLESSING


BLESSED TO BE A BLESSING  
TEXT: GENESIS 12: 1-3

Allah kita adalah Allah yang hidup dan berkuasa. Dia menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dan memiliki tujuan dalam penciptaan. Tujuan Allah adalah supaya ciptaanNya menyembah dan memuliakan Dia. Namun Alkitab mencatat bahwa manusia telah  jatuh ke dalam dosa dan gagal memuliakan Allah. This is big problem for humanbeing. Tapi sekalipun demikian, kegagalan manusia tidak berarti menggagalkan tujuan Allah. Allah memiliki big program untuk keselamatan manusia berdosa. Allah yang maha pengasih menyatakan rencana sekaligus janjiNya, pertama-tama di Kej.3:15 (disebut Protoeungelion=Injil Pertama), yakni janji kedatangan Mesias.  Dan Allah mulai menggenapi janjiNya dengan memilih Abraham. Seorang tokoh iman yang disebut juga bapa orang beriman.

Kita akan belajar Alkitab, khususnya mengenai tokoh iman Abraham, di bawah tema: Blessed to be a Blessing.

  1. Allah memilih Abraham.
Abram adalah anak Terah dari satu negeri bernama Ur Kasdim. Secara historis, Ur Kasdim adalah kota perdagangan yang makmur dan ramai dan  Abram berasal dari keluarga mapan, namun background keluarga adalah penyembah berhala yakni Dewa dewi Bulan, Sin dan Ningal. Abraham dipilih dari lingkungan yang sarat dengan dosa. Mengapa Abraham dipilih? Inilah yang disebut kedaulatan dan anugerah Allah (bnd. Gal.3:18). Dikatakan   Allah karena tidak didasarkan pada keberadaan Abram, juga disebut anugerah karena Allah tidak menentukan criteria tertentu sebagai syarat pemilihan. Abram dipilih untuk mulai menggenapi rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa-bangsa.

  1. Allah memberkati Abraham.
Allah memilih Abraham dan memberkatinya. Dalam ayat 1-3, ada janji berkat yang disediakan bagi Abraham secara pribadi, keturunannya bahkan semua kaum di muka bumi.
-          Suatu negeri yang akan Tuhan tunjukkan (tanah Kanaan)
-          Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar (great nation). Melalui Ishak anak perjanjian dan Yakub yang memperanakkan 12 orang menjadi 12 suku Israel.
-          Aku akan memberkati engkau; materi dan rohani.
-          Aku akan membuat namamu masyhur (great)
-          Engkau akan menjadi berkat (you will be a blessing)
-          Aku akan memberkati orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang yang mengutuk (menghina/meremehkan) engkau.
-          Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (all peoples on earth will be blessed through you).
Dr. Don Richardson, seorang teolog dan misionaris, membagi berkat-berkat dalam Kej.12: 1-3 menjadi 2 bagian besar. Dia menamakan sebagai berkat TOP LINE & BOTTOM LINE. Berkat top line (baris atas): Aku akan memberkati engkau. Dan berkat Bottom line (baris bawah): olehmu (through you) semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Jadi, Allah adalah sumber berkat. Berkat dalam ayat ini, lebih bersifat rohani dan itu ada bukan karena jasa manusia. Tujuan pemberian berkat adalah supaya kamu menjadi berkat

  1. Allah mengutus Abraham.
Abraham sudah diberkati Tuhan, sekarang tiba saatnya ia pergi. Abraham meresponi Tuhan dengan : IMAN DAN KETAATAN. Tuhan berfirman, pergilah dari negerimu. Abram meresponi dengan iman. Pergi dari “negeri lama”  identik dengan kehidupan lama ke negeri yang baru. Pergi berarti “berpaling atau meninggalkan” hidup lama 1800, keluar dari hidup lama, masuk ke kehidupan baru, itulah pertobatan dan iman. Inilah Ekklesia (gereja) yang sesungguhnya (bnd. 1 Ptr.2: 9).  Kemudian dalam ayat 4, lalu pergilah Abram seperti yang di firmankan Tuhan. Abram taat pada perintah Tuhan. Di dalam Ibrani 11: 8 dinyatakan karena iman Abraham taat pada panggilan Allah.

Aplikasi:
  1. Allah juga sudah memilih kita. Apakah tugas pengutusan ini berhenti pada Abraham? Tidak! Kej. 22:18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.”  Kata  “ keturunanmu “ puncaknya menunjuk kepada pribadi Tuhan Yesus.
Gal 3:16 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan “kepada keturunan-keturunannya” seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: “dan kepada keturunanmu”, yaitu Kristus.
Jadi, Setiap orang yang telah menerima Tuhan Yesus Kristus, menjadi milik Kristus, juga adalah keturunan Abraham. Gal 3:29,  Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.
  1. Berkat Tuhan telah tersedia bagi kita. Segala sesuatu yang ada pada kita adalah berkat Allah; terutama keselamatan kekal di dalam Yesus Kristus, kemudian fasilitas, financial, kepintaran, kekuatan, talent/karunia pelayanan semua itu Tuhan berikan sebagai pendukung terealisasinya misi Allah yang paling utama. Dan ternyata apa yang Tuhan sudah beri bagi kita, Tuhan juga menitipkan bagian orang lain yang harus kita bagikan (bottom line). Pada umumnya, manusia lebih senang diberkati dan diberkati terus (top line), tapi jangan lupa panggilan Abraham, supaya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. (ilustrasi: Laut Mati dan Laut Tiberias/D.Galilea. Kita menjadi penyalur berkat bukan penimbun).  Dengan cara bagaimana? Melayani di gereja atau Pergi : jadi penginjil atau misionaris, pengutus: menopang dana, sarana, fasilitas, mobilisator: penggerak, pengajar, penyemangat (bunyikan terompet), penyambut: menerima dan mengasihi orang lain, yang miskin, susah, pendatang dengan perkataan yang membangun, sikap yang ramah, atau paling tidak menjadi pendoa syafaat. Mari kita menemukan peran kita masing-masing, sehingga berdampak kekekalan bagi orang lain.
  2. Tuhan sudah memberi amanat agung, bahkan Tuhan sudah mengutus kita to be a blessing.  Bagaimana respon kita? Maukah kita menjadi saluran berkat atau alat berkat Allah bagi orang lain?

SEGALA KEMULIAAN BAGI TUHAN

Kamis, 13 Agustus 2009

QUO VADIS "SETIA"?

QUO VADIS “SETIA”?

(Nats Renungan: Fil.3: 10-14)

Sudah setahun lebih sejak Juli 2008, SETIA berada di tempat pengungsian. Pengungsi SETIA dibagi dalam tiga lokasi, yakni di Buperta Cibubur, Wisma Transito Kalimalang dan Eks Ktr. Walikota Jakarta Barat. Tinggal di barak-barak atau di tenda-tenda tentu bukan idaman, sekalipun kata orang sangat Alkitabiah. Itu bukan kemauan SETIA. Banyak orang bertanya-tanya, bagaimana atau mau kemana selanjutnya? Akan tetapi belum ada jawaban pasti. Renungan kali ini diberi judul Quo Vadis “SETIA”. Quo vadis, adalah sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang terjemahannya secara harafiah adalah; "Kemana engkau pergi?" Kalimat ini adalah terjemahan Latin dari petikan dari kitab Perjanjian Baru, Injil Yohanes 16:5; "tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi?"

Sejak dahulu, kalimat ini seringkali dipergunakan. Salah satu contoh yang sangat terkenal ialah judul buku dalam bahasa Indonesia: Quo Vadis NU Setelah Kembali ke Khittah 1926, karangan Kacung Marijan (Jakarta:Erlangga) pada tahun 1992. Quo Vadis, juga merupakan judul sebuah film mengenai Nero, Kaisar Romawi, berdasarkan sebuah buku yang dikarang oleh Henryk Sienkiewicz, seorang Novelis Polandia di tahun 1896. Film ini diedarkan tahun 1951 dan merupakan box office yang memenangkan Golden Globe Awards. Sekarang dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia, warga Indonesia juga bisa bertanya, Qua Vadis Indonesia? Indonesia sudah merdeka 64 tahun, akan tetapi hingga saat ini kemerdekaan belum dirasakan oleh semua komponen bangsa. Teroris bebas berkeliaran, penutupan gereja tetap berlangsung, dan secara khusus lagi Mahasiswa SETIA terusir dari rumah sendiri di negeri sendiri. Ironis memang. Lalu mau ke mana? Inikah Indonesia merdeka?

Dalam konteks nats renungan Filipi 3: 10-14, dapat diketahui bahwa Paulus sementara dalam penahanan di penjara karena memberitakan Injil. Namun tembok penderitaan, tidaklah membuat dia terkurung ataupun terpasung. Paulus tahu persis bahwa Injil tidak pernah bisa terbelenggu, malahan Injillah yang bisa membelenggu dirinya dan sekaligus memerdekakan dirinya sehingga dia tahu dia sedang menuju ke mana.

Paulus sejak bertobat (Kis.9) hingga masa tua tetap bersemangat dalam pelayanan.

Apa yang mendasari Paulus sehingga tetap bersemangat (berapi-api) dalam pelayanan?

1. Relasi yang intim dengan Tuhan

Jika kita membaca prikop Fil.3:1-7, kita mengetahui secara jelas bahwa Paulus bukanlah orang sembarangan. Dia seorang yang patut dibanggakan bahkan sebelum dia mengenal Yesus Kristus. Dari keluarga terhormat, orang pintar atau seorang ahli dan lain-lain. Tetapi dia berkata: semua itu kuanggap sampah karena pengenalan akan Kristus lebih mulia dari segalanya. Di sini kita melihat, pembaruan yang dialami oleh Paulus. Skala prioritas penting ada, dan bagi Paulus, prioritas utama adalah pengenalan akan Tuhan. Ketika surat ini di tulis, Paulus sementara berada dipenjara, dia diperkirakan berusia 60 -an tahun. Jadi sekitar 30 tahun dia sudah melayani. Tetapi diayat ke 10, apa yang dikehendaki Paulus? Dia berkata, “Yang kukehendaki ialah, mengenal Dia (Yesus)”. Atau yang menjadi keinginan tertinggi saya, prioritas saya adalah mengenal Dia. Kata mengenal (Ing: know, Yun:Ginosko, Ibr: yada) berarti relasi yang intim ibarat relasi suami istri yang tidak terpisahkan. Inilah rahasia keberhasilan Paulus dalam perjalanan misinya. Mengenal dan mengasihi Tuhan lebih baik tiap-tiap hari. Paulus adalah seorang yang sangat sibuk, tetapi dia tidak lupa prioritas utama, God is number one.

Prioritas tertinggi Paulus dihubungkan dengan tiga hal yaitu kebangkitan, penderitaan dan kematian Kristus.

- Kebangkitan dihubungkan dengan kuasa. Kebangkitan Yesus mengalahkan maut (1 Kor.15:56-57). Kebangkitan Yesus memberikan jaminan kemenangan, kepastian keselamatan dan pengharapan baru bagi orang percaya. Tanpa kebangkitan Kristus sia-sialah kepercayaan kita sebagai orang Kristen.

- Penderitaan dihubungkan dengan persekutuan. Penderitaan bukan pilihan, mau/tidak mau. Akan tetapi ketika kita dipanggil menjadi saksi-Nya, kita memang harus siap menerima segala konsekuensi akibat persekutuan kita dengan Tuhan. Kita seharusnya berdoa seperti Yesus, biarlah kehendak-Mu yang jadi.

- Kematian dihubungkan dengan kata serupa. Di dalam Fil.2:8 – Yesus merendahkan diri, taat sampai mati di salib. Yesus menghambakan DiriNya dan taat sampai mati. Paulus mau serupa dengan Yesus yang taat sampai mati. Ketaatan tidak bergantung pada waktu, tempat dan kondisi (Fil.2:12-13). Allah mengerjakan kemauan dan kemampuan untuk melakukan kehendak Tuhan. Kita ada untuk mensukseskan tujuan (baca; visi & misi) Tuhan.

2. Memiliki goal/tujuan yang pasti dan jelas

Dalam Fil.3:14 dinyatakan bahwa Paulus berlari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi. Tujuan yang jelas memberikan kita semangat dan pengharapan. Berjalan tanpa tujuan, menembak tanpa arah adalah tindakan yang sangat melelahkan. Dalam Yesus kita mendapatkan kepastian, kita diselamatkan oleh karena anugrahNya dan kita dibimbing untuk berjalan mengikut Dia. Tujuan hidup kita adalah menyenangkan dan memuliakan Tuhan. Seluruh hidup kita harus menjadi alat kemuliaan bagi Tuhan.

3. Sikap pantang menyerah

Sikap pantang menyerah adalah sikap Paulus. Dia terus mengejar, tidak pernah merasa sudah cukup. Tidak pernah berhenti, sampai mencapai garis finish. Paulus tidak pernah merasa bahwa dia sudah sempurna, atau sudah sukses karena berhasil membuka pos pelayanan diberbagai tempat. Dia tidak bangga dengan karunia rohani yang dimiliki. Tetapi tetap rendah hati sambil terus berbuat bagi Tuhan. Paulus memiliki prinsip bahwa mahkota tidak mungkin didapat kalau tidak melewati perjuangan bahkan penderitaan. Sikap pantang menyerah menimbulkan semangat juang (fighting spirit) untuk mencapai keberhasilan. Salah satu spirit zaman postmodern ini adalah spirit instant. Mau cepat dapat hasil padahal belum musimnya atau mau sukses tanpa harus berjerih payah, dan dilain pihak ada orang yang bersifat pragmatis, yang penting tujuan tercapai, tidak peduli apapun caranya. Lalu ada yang banyak bicara sedikit kerja, atau kerja banyak tetapi korupsi juga banyak. Tentu kita berbeda, tidak mengikuti spirit yang salah. Marilah kita bekerja atau melayani dengan jujur dan semangat, jangan sampai patah semangat karena itu akan mengeringkan tulang, kata penulis Amsal. (bnd. Spirit SETIA: be open, be honest, be loving).

Sekarang kembali pada pertanyaan tema, Quo Vadis SETIA? Apakah ini pertanyaan pengharapan atau keputusasaan? Pertanyaan akademis atau praktis? Teologis atau humanis? Tidak perlu dipersoalkan, yang pasti sebagai anak Tuhan, bagi kita selalu ada harapan. Harapan SETIA mendapatkan kampus yang baru masih dan tetap ada. Harapan adanya pemulihan (bersifat holistik) seluruh civitas Akademika SETIA pasti terjadi, jika semua merendahkan hati dan berjalan mencapai visi/misinya Tuhan. Paulus mengajak kita, supaya kita berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Seruan pahlawan, maju terus pantang mundur, merdeka atau mati. Dan seorang Pendeta (alm. AT) pernah berkata dibalik penderitaan ada kemuliaan dan tidak ada mahkota tanpa salib atau penderitaan (No Cross No Crown)! Tuhan Yesus menyertai kita.

Pdt. Eduarto Andi Silalahi

Sabtu, 08 Agustus 2009

Menjangkau yang Tak Terjangkau

Tantangan Misi : Menjangkau yang Tak Terjangkau

(Lukas 8 : 26-39)


Misi merupakan tugas/panggilan gereja yang diamanatkan oleh Yesus Kristus Sang Kepala Gereja. Yesus berkata: Seperti Bapa mengutus Aku, demikianpun mengutus kamu ke dalam dunia. Dan ayat yang sangat terkenal Matius 28: 19-20, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu …”

Menjangkau yang tak terjangkau? Siapakah mereka? Mengapa disebut tak terjangkau? Jika anda diminta melayani seorang yang tidak anda kenal, orang yang dirasuk setan, orang yang gila dan telanjang, apa yang anda akan katakan dan lakukan? Mungkin saja anda akan berdalih dengan berbagai alasan, anda mungkin berkata: maaf, itu bukan spesialisasi saya, atau berkata itu terlalu berat bagi saya.

Yesus dalam pelayananNya tidak saja melayani orang-orang kota tetapi juga orang-orang desa (Mat.9: 34-37). Yesus tidak saja melayani orang-orang kaya, pintar atau yang berkedudukan tinggi dalam pekerjaannya. Akan tetapi Yesus juga banyak melayani orang-orang miskin, orang desa, orang-orang kecil yang tidak mampu atau kaum marginal. Yesus memberi perhatian khusus bagi mereka yang sangat terisolasi, bukan saja secara sosial, ekonomi, intelektual tetapi juga secara rohani. Mereka adalah orang-orang yang perlu “dijangkau” oleh Injil, mereka membutuhkan kasih, membutuhkan keselamatan dari Yesus Kristus.


Siapakah mereka yang tak terjangkau itu?

Tuhan Yesus dalam pelayanannya pernah melayani di daerah Gerasa yang terletak di seberang Galilea (Lukas 8: 26-39). Setelah Yesus tiba di sana, seorang laki-laki datang kepada Yesus; orang itu dirasuk Setan, sudah lama tidak berpakaian dan tidak tinggal di dalam rumah, tetapi di dalam pekuburan. Berdasarkan Luk.8:26-39, kita dapat mengetahui gambaran orang yang tak terjangkau, yakni:


1. Putus relasi dengan Tuhan.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej.3) membuat manusia menjadi seteru Allah. Akibat dosa maka manusia menjadi putus relasi dengan Tuhan. Manusia hidup dalam perbudakan dosa, hidup di bawah kuasa dosa dan dibelenggu oleh Setan. Demikianlah kondisi orang Gerasa dalam Lukas 8. Dia mengalami keadaan yang sangat kritis (gawat darurat) tinggal menunggu kebinasaan. Tidak ada harapan sama sekali, sebab dia dalam kondisi tidak waras. Dia menjalani hidup yang tanpa arah. Mengapa? Karena sudah terpisah dari Tuhan dan sebaliknya dirasuki oleh Setan. Ini adalah keadaan yang mengenaskan. Tanpa Tuhan, hidup di bawah bayang-bayang maut yang mengerikan.


2. Putus relasi dengan sesama/lingkungan.

Kondisi orang tersebut bukan saja terpisah dari Tuhan, akan tetapi juga sudah tersingkir dari kehidupan masyarakat normal. Dia tidak lagi tinggal di rumah, tetapi di pekuburan (ay. 27). Ini adalah satu fenomena atau pemandangan yang tidak wajar. Di kota Jakarta saja misalnya, orang tinggal di kolong-kolong jembatan, atau di pinggir-pinggir kali, nampaknya sudah tidak wajar. Apalagi di pekuburan, benar-benar satu keadaan yang abnormal, hanya orang gila seperti orang Gerasa saja yang mau tinggal di tempat itu. Manusia dicipta sebagai makhluk sosial, yang seharusnya dapat membina relasi atau persekutuan dengan sesama. Akan tetapi tanpa relasi dengan Tuhan seseorang tidak mungkin dapat mengerti konsep lingkungan sosial dengan baik. Berdasarkan ayat 29b dapat disimpulkan bahwa ia benar-benar berbahaya untuk masyarakat sekitarnya. Dia sering dirasuk setan, karena itu dia harus dirantai dan dibelenggu agar tidak mengganggu ketenangan lingkungan. Dalam hal ini berarti lingkunganpun sudah tidak peduli dengan orang tersebut.


3. Putus relasi dengan diri sendiri.

Orang Gerasa tersebut tidak mengenali dirinya sendiri. Mengapa? Tentu karena keberadaannya (being) yang sudah rusak total; terpisah dari Tuhan dan dibelenggu Setan, sehingga tindakannya (doing) juga rusak. Oleh sebab itu dia berjalan di luar kesadaran. Setan telah menjadi motor di dalam dirinya. Dia sudah lama tidak berpakaian, bukan karena tidak ada pakaian, tetapi karena dia tidak tahu malu sama sekali. Tentu saja dia butuh pakaian, tetapi dia tidak tahu hal ini. Oleh sebab itu, dia membutuhkan pertolongan orang lain. Bagaimana seseorang dapat mengenali diri? Seseorang dapat mengenali diri dengan baik, sesorang dapat sadar diri, hanya apabila dia sudah berjumpa dengan Tuhan Yesus secara pribadi. Pengenalan akan Tuhan mendahului pengenalan akan diri sendiri.

Inilah kondisi nyata yang dialami oleh orang Gerasa tersebut. Yesus datang untuk mencari orang-orang yang terhilang, orang yang tidak kenal Tuhan dan tidak kenal diri. Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapanNya dan berkata dengan suara keras: Apa urusanMu dengan aku, Hai Yesus Anak Allah yang Mahatinggi?... Lalu Yesus memerintahkan Setan yang bernama Legion itu keluar dari orang itu (Mat.8: 28-33). Puji Tuhan! Orang Gerasa itu akhirnya mendapatkan pemulihan total di dalam Yesus.


Siapa yang mau menjangkau ?

Di lingkungan kita atau di bangsa kita, masih begitu banyak orang yang belum terjangkau. Pertanyaannya, siapa yang terbeban, siapa yang mau pergi menjalankan misi Tuhan? Apakah anda dan saya mau pergi? Atau kita menutup mata hati kita dan berkata, ku ingin tetap di sini menikmati baitMu. Tuhan memang mengundang kita untuk datang kepadaNya, tetapi Tuhan juga menantang kita untuk pergi bagi Dia, demi kemuliaanNya. Ingatlah bahwa hati Yesus ada pada orang-orang yang terhilang atau orang yang tak terjangkau. Bagaimana dengan anda, di manakah hatimu?

Perjalanan Orang Percaya

EFESUS 5 : 1-18 Hidup adalah sebuah perjalanan. Biasanya ibu-ibu senang kalau sudah ngomong tentang jalan-jalan. Pertanyaannya, d...