Tampilkan postingan dengan label Panggilan Hamba Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panggilan Hamba Tuhan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Agustus 2009

LIFE STYLE ANAK TUHAN

LIFE STYLE ANAK TUHAN


Keadaan zaman Sekarang


Kita hidup di tengah zaman yang kritis dan krisis multi dimensi, khususnya di Indonesia. Namun demikian kita tidak bisa berkata, mengapa aku terlahir di zaman ini? Mengapa saya tidak dilahirkan 50 tahun lalu atau dilahirkan 100 tahun yang akan datang? Pasti ada maksud Tuhan di balik semua itu. Masing-masing harus bertanya: Mengapa aku ada di sini? Apa yang seharusnya saya lakukan di dalam realita zaman ini?

Hal yang penting adalah bagaimana kita hidup ditengah zaman sekarang, yang disebut sebagai era post modernisme, era globalisasi atau era trend, modis dll. Kita harus tahu tantangan yang kita hadapi, sehingga kita dapat memposisikan diri kita. Kita adalah orang yang diutus Tuhan Yesus ke dalam dunia ini (Yoh.17:15,18) maka kita tidak bisa mengelak dari realita yang ada. Di Indonesia saja kita tahu bahwa kehidupan begitu majemuk dalam berbagai hal, apakah masih ada kebenaran mutlak di dalamnya? Ada begitu banyak agama dan kepercayaan? Tetapi mengapa kita harus Kristen? Iman Kristen juga menghadapi begitu banyak tantangan. Tantangan dunia filsafat, budaya bangsa-bangsa, kemajuan dunia teknologi, agama-agama, masalah moralitas dll. Richard Rorty, seorang filsuf modern berkata: tidak ada kebenaran yang mutlak. Kebenaran hanya satu percakapan komunitas. Kebenaran orang Kristen untuk orang Kristen, kebenaran Islam untuk orang Islam dst. Etika pun menurut Alasdair McIntyre dalam bukunya After Virtue, tidak ada yang mutlak. Itu hanya wacana, kepercayaan, kesepakatan dan kegiatan komunitas bersama. Itu saja.

Bagaimana kita menghadapi tantangan yang demikian banyak? Secara logika, kita sadari pasti ada kebenaran mutlak. Kalau orang mengatakan: tidak ada kebenaran mutlak, dengan sikap meminta orang agar pendapatnya harus diterima sebagai hal yang mutlak, itu sudah masuk dalam wilayah kemutlakan. Jadi ada kemutlakan. Sebagai orang Kristen, kebenaran itu bukan ada pada diri kita, tetapi pada Allah, sumber kebenaran mutlak. Dan kita percaya, kebenaran mutlak dari Allah itu sudah Allah nyatakan dalam Alkitab. Alkitab menjadi pelita bagi kaki dan terang bagi jalan kita. Alkitab adalah buku penuntun hidup kita.


Hidup bukan dengan konsep sendiri

Sebagai anak-anak Tuhan, kita disebut sebagai manusia baru. Sebagai manusia baru, hidup kita jangan menjadi serupa dengan dunia, tetapi harus berubah sesuai dengan pembaruan akal budi kita (Rom.12:1-2). Kita melihat bagaimana Matius menggambarkan perbandingan nilai di Matius 6:25-34, bahwa kerajaan Allah dan kebenaranNya harus didahulukan dari yang lain. Selain itu, kalau kita melihat yang berharga, kita berani bayar dengan semua yang kita miliki (Mat.13:44-46). Konteks Tuhan Yesus ketika berkata dalam Injil Matius adalah ketika itu Tuhan Yesus diakui oleh Petrus, Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Tuhan mengatakan kepada Petrus, berbahagialah engkau Simon bin Yunus karena Bapa di di surga yang memberitakan ini kepadamu. Saat itu Petrus memberi jawaban yang benar. Dan kemudian Tuhan Yesus mengatakan juga, di atas batu karang ini... di atas petra, bukan petros, (di atas pengakuan iman yang benar, doktrin yang benar), Aku akan mendirikan jemaast-Ku.

Tetapi kemudian Dia melanjutkan ceritaNya. Kita hidup harus mengikuti Tuhan Yesus, tetapi mengikut Tuhan jangan dengan konsep mereka tentang Mesias saat itu. Mereka memikirkan kalau Yesus jadi raja, kami bisa mendapatkan kedudukan atau posisi-posisi penting. Kami bisa menjadi menteri-menteri, menjadi orang VIP. Ini adalah cara berpikir mengikut Tuhan dengan konsep egosentris. Tetapi sebaliknya, anak Tuhan harus hidup sesuai dengan konsep dan keinginan Tuhan. Tuhan Yesus menantang orang muda yang kaya itu agar menjual hartanya sebagai komitmen total dalam mengikut Tuhan Yesus (Mat.19:21-22).


Hidup dengan cara Tuhan Yesus (Bacaan: Matius 16:21-26)

Tuhan Yesus memberitahukan, bahwa Dia bukan raja dalam konsep mereka. Ia adalah raja yang dirajakan melalui penderitaan dan kematian-Nya. Dia memberitakan bahwa Dia, Anak Manuisa, akan menderita dan dianiaya oleh para ahli Taurat, para tua-tua dan pemimpin agama waktu itu. Dia akan menderita, akan mati dan kemudian Dia akan bangkit. Cara hidup yang Tuhan Yesus tawarkan adalah kemuliaan melalui penderitaan: NO CROSS, NO CROWN.

Jika kita membaca Injil pararel lainnya, nampak Petrus tidak suka hal itu. Petrus tidak setuju dengan apa yang Kristus katakana karena ia mempunyai konsep lain. Petrus merupakan wakil kita yang tidak suka cara ini. Tetap Tuhan Yesus menegur Dia, Enyahlah Iblis. Saat itu Petrus seperti Iblis yang menawarkan semua kerajaan dunia dan kemegahannya dan berkata, semuanya ini akan kuberikan kepada-Mu, jika engkau mau bersujud kepadaku (Mat. 4:8-9), satu tawaran yang mudah, indah tanpa penderitaan, tanpa salib, tanpa kematian.

Satu hal yang harus kita tahu: Waktu Sdr percaya kepada Tuhan Yesus, waktu saudara mau menjadi muridNya, waktu saudara mau menjadi pengikutnya, ingatlah Tuhan Yesus memberikan syarat dan ujian yang membedakan apakah kita sungguh-sungguh mengikuti Dia.


Sikapku: Menyangkal Diri


Kata menyangkal diri dapat kita hubungkan dengan peristiwa Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus 3 kali. Ia mengatakan : saya tidak kenal Dia 3 kali. Seorang penafsir berkata: menyangkal diri berarti tidak kenal diri lagi. Tidak ada diri sendiri, tidak memperhitungkan diri dan hak kita. Tidak memusingkan diri terhadap kepentingan pribadi lagi, bukan apa yang kita mau, tetapi apa yang Tuhan mau, apa yang Tuhan kehendaki. Menyangkal diri berarti harus membungkam keegoan kita, sehingga yang nampak bukan penonjolan diri, tetapi sifat Kristus yang terpancar dari diri kita. Menyangkal diri sangat menyakitkan, tetapi itu harus dilakukan, agar sifat Kristus nampak di dalam kita. Orang percaya disebut sebagai surat Kristus yang dapat dibaca oleh semua orang, terbuka, jujur dan berintegritas.

Menyangkal diri juga berarti dapat menguasai diri. Bagaimana kita dapat menguasai diri? Untuk hal ini perlu pengenalan diri yang benar (Know your self). Seseorang dapat mengenal diri, jika dia sudah mengenal Allah. Orang yang sudah kenal diri maka dia menjadi orang yang dapat menerima diri (be your self). Menyangkal diri tidak berarti menyangkal identitas kita sebagai anak-anak Tuhan. Akan tetapi justru, dalam situasi yang tidak kondusif sekalipun, kita harus tetap berani, berkata I am a Christian. Saya tidak malu menjadi pengikut Kristus. Banyak pemuda yang tidak dapat menyangkal diri, sehingga gaya hidupnya tidak beda dengan orang diluar Kristen. Pemuda Kristen mestinya hidup menurut nilai-nilai rohani, sesuai Alkitab. Pemuda Kristen harus berani tampil beda dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. Tampil beda bukan berarti jadi aneh-aneh, tapi menunjukkan identitas Kristen. Misalnya: Jika orang lain menganggap seks pra nikah sudah gaya hidup biasa, kita harus tegas berkata tidak. Yusuf ketika dia digoda oleh Nyonya besar alias tante girang, ia dengan tegas berkata: Bagaimana mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah? (Kej.39:9). Dia bersikap tegas: No to Sin. Contoh lain, dalam hal doa atau ibadah. Mungkin sebagian orang berkata, sudahlah, Tuhan tahu koq kekurangan kita, jadi tidak usah terlalu rohani. Namun Daniel, punya sikap yang jelas: Apapun yang terjadi dia tidak terkontaminasi dengan sikap kekafiran di Kerajaan Babel. Daniel tekun berdoa dan memuji Allah, bahkan dia memiliki jam-jam doa khusus, itu sudah menjadi gaya hidup Daniel (Daniel 6:11). Bagaimana dengan anda?


Tanggung jawabku: Memikul Salib


Di sini yang dimaksud bukan mengatakan bahwa kita harus memakai tanda salib. Memikul salib jangan kita mengerti hanya di cela, dihina, dijelekkan atau difitnah sebagai orang Kristen.Akan tetapi harus ingat kembali konteks mula-mula orang memikul salib. Orang yang sedang memikul salib itu berarti sedang menuju kematian. FF.Bruce mengatakan bahwa pada waktu Yesus berusia 12 tahun, ada pemberontakan yang dipimpin oleh seorang bernama Yehuda atau Yudas. Pemberontakan itu akhirnya dipadamkan oleh prajurit Romawi. Orang yang tertangkap itu diberi hukuman yang paling mengerikan: salib. Orang yang akan disalib diarak-arak memikul patibulum berjalan menuju tempat kematian. Dengan kata lain, memikul salib berarti apa? Berarti kita mati terhadap diri sendiri dan kita siap mati. Kita sedang dibawa ke tempat pembantaian. Pengertian ini diterima oleh Rasul Paulus, Dia mengatakan, Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari (Rom.8;36). Setiap hari kami seperti sedang dibawa kepambantaian, untuk dibinasakan, untuk dibunuh. Setiap hari, dalam tubuh kami, kami membawa kematian Kristus. Ini yang digambarkan tentang memikul salib, bukan sekadar penderitaan ringan.

Ada penafsir mengatakan ini bukan berarti kita tidak memiliki kesenangan sama sekali. Orang Kristen digambarkan sebagai orang yang selalu berjalan tertunduk, selalu serius, tidak pernah tersenyum, selalu mengerutkan keningnya. Tidak lah demikian. Orang Kristen adalah orang yang menikmati kehidupan. Beberapa penafsir menambahkan dalam illustrasi mereka, mereka mengatakan memikul salib itu bukan berarti menyangkal kesenangan dalam hal-hal yang bersifat intelektual. Sekolah tinggi-tinggi boleh, tetapi motivasi harus jelas: saya mau melayani Tuhan lebih sungguh (Kol.3:23). Memikul salib adalah satu keindahan. Hal ini sulit kita bayangkan, jika kita tidak mengalaminya. Rasul Paulus berkata ia ingin serupa Kristus dalam kematianNya (Fil.3:10).

Kita harus sadari bahwa memang kita tidak bisa mempertahankan diri, tidak bisa mempertahankan kesehatan kita. Orang bisa kelihatan sehat, tiba-tiba mati mendadak, jadi harus siap senantiasa. Oleh karena itu, kita harus menyangkal diri setiap hari, memikul salib seperti orang yang siap dihukum, mengerjakan sebaik mungkin apa yang Tuhan mau, sebab esok belum tentu kita hidup. Setiap hari makin cinta Tuhan, makin berguna bagi kerajaan-Nya.

Saya mulai memikirkan bahwa ada orang yang mengaku orang Kristen, mungkin penginjil, pendeta, majelis, tetapi Tuhan menyangkal dia pada akhir zaman: Aku tidak kenal kamu, enyahlah dari padaku, kamu sekalian pembuat kejahatan (Mat. 7:21-23). Ini merupakan suatu koreksi atau peringatan kepada kita. Kalau kita sungguh-sungguh orang Kristen harus menjadi orang yang bertanggungjawab dan sedia berkorban, berjuang hingga dapat mengakhiri pertandingan hidup dengan baik.


Komitmenku: Mengikut Dia setiap hari


Yesus berkata: Mari ikutlah Aku. Kalimat ini adalah undangan special yang membutuhkan respon dari kita. Ikut berbeda dengan ikut-ikutan. Ikut-ikutan belum tentu menjadi bagian dari anggota. Ikut berarti ada kesiapan. Kesiapan yang menuntut ketaatan pada Yesus. Yesus yang menjadi Kepala atau pemimpin hidup kita. Dia menjadi teladan agung kita. Pemimpin agung yang berhati mulia meski penuh dengan kesederhanaan. Pemimpin yang memiliki visi dan misi yang pasti. Pemimpin yang memiliki proyek terbesar di dunia dan di surga.

Suatu kali dalam suatu penerbangan menuju Amerika, dua orang pria duduk berdampingan. Mereka mulai berkomunikasi. Pria A mulai bercerita tentang profesinya sebagai pengusaha yang cukup sukses. Dia menjadi manajer dibeberapa perusahaan yang telah membuka cabang di beberapa Negara. Dengan bangga dia menceritakan tentang keberhasilannya. Pria B hanya senyum-senyum saja. Pria A penasaran akan senyum teman disampingnya. Lalu dia bertanya, saya sudah menceritakan diri saya, bapak ini siapa dan bekerja di mana? Lalu dengan tenang dia menjawab: Saya bekerja di proyek terbesar di dunia, manajer saya adalah manajer terkemuka di dunia. Dan proyek yang saya kerjakan tidak ada habis-habisnya. Pria A cukup kaget dan penasaran, apa sebenarnya profesinya. Lalu pria B berkata, saya adalah Pendeta yang melaksanakan proyek misi Tuhan yang bernilai kekal. Yesuslah yang menjadi manajernya. Pria A sedikit tersipu-sipu, karena dia dengan sombongnya memperkenalkan diri.

Kita hidup di zaman ini, Tuhan tidak pernah salah menghadirkan kita di bumi ini. Dia memiliki rencana yang indah bagi setiap anak-anakNya. Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan bagi kita, tetapi rancangan masa depan yang penuh harapan dan damai sejahtera (Yer.29:11). So What? Life style apa yang kita mau? Teladanilah Yesus, manusia sejati. Stephen Tong pernah berkata: bahwa kita sebagai generasi muda yang hidup di zaman ini, kita tidak hanya pewaris sejarah, karena kalau hanya pewaris kita bisa terlindas zaman, tetapi kita juga harus menjadi penganalisa bahkan menjadi penantang zaman. Artinya posisi kita sebagai anak Tuhan, harus sebagai pembawa perubahan di tengah zaman. Berani menyatakan kebenaran tanpa kompromi, menegakkan disiplin penuh kasih, menolak dosa atau takut berbuat dosa dan takut akan Tuhan.

Jadi gaya hidup anak-anak Tuhan, harus berpusat kepada Kristus, siap menyangkal diri, memikul salib dan ikut Dia setiap hari. Inga, inga... No Cross, No Crown. Ada salib, ada mahkota. Hidup akan lebih berarti, jika kita mengerti untuk apa kita hidup, yakni untuk memuliakan Tuhan. Jika Tuhan berkata: Nyawa-Ku kuberikan padamu, apa yang kau berikan pada-Ku? Apa jawaban Saudara dan saya?

Pdt. E. Andi Silalahi

I AM NOT READY (?)

I am not ready (?)

Refleksi Panggilan Yeremia berdasarkan Yeremia 1: 4-10


1:4 Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:

1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."

1:7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.

1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

1:9 Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.

1:10 Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam."


Latar belakang Panggilan

Sejarah pelayanan Yeremia mencakup kurun waktu 40 tahun, dari saat ia dipanggil pada tahun ke-13 pemerintahan raja Yosia (626 sM) sampai jatuhnya Yerusalem th 587 sM. Selama 40 tahun ia bernubuat pada pemerintahan 5 raja Yehuda terakhir, yaitu Yosia, Yoahas, Yoyakin, Yoyakim dan Zedekia. Waktu Yeremia dipanggil menjadi nabi, ia masih na’ar (muda), yang berarti masih belia (1 Sam.30:17), belum dewasa secara rohani dan sosial.


Bukan Panggilan kebetulan (ay.4-5)

Firman Allah datang kepada Yeremia: Sebelum Aku membentuk Engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal…, Aku telah menguduskan…, Aku telah menetapkan (ay.4-5). Menarik sekali bagian ini jika kita amati dengan seksama.


Siapa yang memanggil? Allah

Siapa yang dipanggil? Yeremia

Siapakah Allah, siapakah Yeremia?


Pernyataan Aku membentuk engkau menunjuk pada pemeliharaan dan keahlian seorang tukang periuk. Tukang periuk yang sedang bekerja adalah salah satu gambaran favorit Allah tentang diriNya (band. Kej.2:7). Gambaran ini meneguhkan kita pada tempat kita yang sebenarnya, yakni sebagai tanah liat yang tidak berhak mencela si pembentuk (lihat Yer.18:1-12). Gambaran atau hubungan antara tanah liat dengan tukang periuk bersifat total defendence (bergantung secara total, mutlak) kepada Allah. Dalam ayat 5, kita diperkenalkan tentang Allah sebagai Pencipta yang tidak terbatas (omni potent, omni science, omni presence). Sedangkan Yeremia (manusia) sangat terbatas sebagai ciptaan yang dibentuk oleh Allah. Allah membentuk manusia dengan sempurna, diperlengkapi dengan pengetahuan serta potensi untuk dapat berkreasi.

Panggilan Yeremia, adalah panggilan yang pasti dan jelas, bukan suatu kebetulan. Saya meyakini bahwa segala yang terjadi dalam hidup ini, tidaklah merupakan kebetulan, akan tetapi ada dalam pengetahuan Allah. Dalam hal panggilan ini, Allah memperkenalkan DiriNya kepada Yeremia, sekaligus karyaNya bagi Yeremia:


Aku membentuk… Allah Pencipta, Perancang hidup, kita tidak ada dengan sendirinya

Aku telah mengenal…Allah mengetahui keterbatasan kita

Aku telah menguduskan…Allah memisahkan, mengkhususkan, melayakkan kita

Aku telah menetapkan…Allah tidak salah pilih dan tidak salah menempatkan


Master plan Allah bagi Yeremia sangat rinci dan jelas. Peran Allah mendahului peran Yeremia. Poin-poin di atas menghubungkan Yeremia pertama-tama kepada Tuhan, baru kemudian kepada dunia/bangsa-bangsa. Allah yang menjadi pusat hidup dan panggilannya. Inilah adalah panggilan khusus pelayanan.


Respon Yeremia (ay.6)

Yeremia berkata: Ah Tuhan Allah, aku ini tidak pandai bicara (tidak tahu mau bicara apa). Ini adalah respon awal Yeremia terhadap panggilan Allah. Yeremia berkata, aku masih muda. Aku belum siap Tuhan (I am not ready, Lord). Mulutku ini belum beres. Aku belum ada pengalaman. Jangan aku Tuhan. Keengganan Yeremia menerima panggilan itu paling tidak menjadi satu modal: kelak ia tidak bisa menyalahkan dirinya sebagai orang yang mementingkan diri sendiri atau supaya bisa menikmati kesempatan menimbulkan ketakutan dalam diri orang lain. Hal ini berkaitan dengan tugas yang akan diembannya sebagai seorang nabi, yang harus menubuatkan peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan bagi manusia. Kita juga kadang seperti Yeremia: ketika kita dipilih jadi panitia satu kegiatan, kita berkata: saya tidak mampu, saya sibuk dll. Kalau tetap dipilih juga, maka kita punya modal: jangan salahkan saya, dulu kan saya sudah bilang, bahwa saya tidak bisa.Atau sebaliknya kita merasa tidak pantas karena berkaitan dengan keberadaan secara fisik yang lemah, cacat, penyakit, minder/rendah diri atau malah kita sombong, melihat pekerjaan itu kecil dll, membuat kita berkata, jangan aku Tuhan yang jadi pengurus, jangan aku, itu tidak sesuai bidang atau jurusanku.

Namun, dalam hal ini kita perlu memikirkan bahwa Yeremia mungkin benar-benar menyadari ketidaklayakannya di hadapan Tuhan. Satu pengakuan yang jujur bahwa dia mengalami pergumulan untuk tugas berat yang akan dijalani.


Keharusan Panggilan (ay.7)

Kekuatiran Yeremia, dijawab Allah dengan mengarahkan Yeremia, supaya focus kepada tugas panggilan yang sudah ditetapkan Allah. Allah tidak mau kompromi dengan manusia. Apa yang dikatakan Yeremia tentang dirinya mungkin benar (Allah tidak menyangkalnya) tetapi bukan itu inti permasalahan. Pertanyaan “Siapakah aku ini, sehingga aku harus melakukan hal ini?” bukan lagi pertanyaan yang tepat. Tetapi sekarang harus bertanya “Apa yang harus kulakukan?” Jadi pertanyaan “Who am I” memang penting, tapi jauh lebih penting “What I should do”.

Panggilan itu adalah suatu keharusan untuk menjalankan mandat Allah di dalam dunia ini. Allah memanggil kita bukan hanya untuk datang kepadaNya, melainkan Allah juga memanggil kita untuk pergi bagi Dia. Kita mau agar hidup kita di dunia ini menjadi garam dan terang. Kita rindu agar hidup kita yang sementara di dunia ini berdampak positif bagi orang lain. Karena itu jangan menyia-nyiakan kesempatan.Ada ungkapan yang menyatakan:

Orang biasa-biasa, menunggu kesempatan,

Orang bodoh, membuang kesempatan,

Tetapi orang pintar/bijaksana, mencari dan menggunakan kesempatan. Kita tidak tahu berapa lama kita hidup, dan jika kita diberi kepercayaan oleh Tuhan, itu adalah grace (kasih karunia). Bersyukurlah jika Tuhan masih memberi anugrahnya bagi kita.


Penyertaan Allah (ay.8)

Dari ayat ini dapat kita ketahui bahwa Yeremia ternyata memiliki ketakutan untuk berhadapan dengan bangsanya. Ini berkaitan dengan tempat tugas. Ada hamba Tuhan mau melayani setelah penempatannya sesuai dengan yang diharapkan. Kalau bertentangan dengan harapan, tunggu dulu. Nampaknya Tuhan salah pilih. Bukan aku Tuhan yang cocok disitu. Tidak masalah jika kita bertanya “Di mana tempat tugasku?”. Tetapi jauh lebih penting di mana kita berada Tuhan menyertai. Penyertaan Tuhan membuat kita merasa aman dan damai.


Pengutusan/penugasan Yeremia (ay. 9-10)

Pengutusan Yeremia, diawali dengan sentuhan (touch) yang lembut di bibirnya. Allah menjamah mulut Yeremia, menunjukkan otoritas ilahi dalam pengudusan diri. Yeremia mengakui kelemahannya, Allah memperlengkapi dia dengan perkataan-perkataan Firman yang kudus. Kekudusan adalah bagian penting dalam rangka pelayanan, sebab kita sedang melayani Allah yang maha kudus.

Ketahuilah pada hari ini, Aku mengangkat atau melantik engkau untuk melakukan misi-Ku. Kamu harus pergi kepada bangsa-bangsa, kerajaan-kerajaan untuk menyuarakan kebenaran, untuk mencabut dan merubuhkan, untuk membangun dan menanam.


Kesimpulan

Tuhan memiliki Visi yang jelas.

Tuhan mau memakai kita menjadi alatnya, Tuhan merekonsiliasi, Tuhan menguduskan kita.Tuhan menghendaki ketaatan kita menjalankan misiNya. Tuhan mau memakai kita bukan karena kemampuan yang kita miliki, melainkan karena anugrahnya. Tuhan mencari orang yang merasa diri mampu, tetapi Tuhan mencari siapa yang mau taat (bndk. 1 Tim.1:12). Jangan takut, Tuhan berjanji menyertai kita sampai akhir zaman.

Kunci Pelayanan: Penyerahan diri; berlutut dan berdoa dalam pelayanan.

Perjalanan Orang Percaya

EFESUS 5 : 1-18 Hidup adalah sebuah perjalanan. Biasanya ibu-ibu senang kalau sudah ngomong tentang jalan-jalan. Pertanyaannya, d...