Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Kristen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2009

PERSFEKTIF REFORMED TENTANG PENDIDIKAN

ANTITESIS DALAM PENDIDIKAN

Prinsip hidup orang percaya berlawanan total dengan prinsip hidup orang yang tidak percaya. Hal ini terjadi juga dalam dunia pendidikan sama seperti dalam gereja. Antitesis terjadi di seluruh bidang pendidikan. Pertama, terjadi dalam filsafat pendidikan, kedua, antitesis muncul dalam aspek materi yang disampaikan, yakni kurikulum. Terakhir antitesis muncul ketika kita memikirkan sang anak atau anak muda yang akan dididik.


Antitesis dalam Filsafat Pendidikan

Pikiran Non Kristen tentang Allah: Allah yang bersifat impersonalistik. Jadi Allah bukan satu pribadi yang bersifat absolut, tetapi Allah yang terbatas. Seluruh program pendidikan yang dibangun di atas dasar pemahaman impersonal pasti berlawanan total dengan program pendidikan yang dibangun di atas dasar yang personal. Pendidikan non Kristen dapat dikatakan sebagai pendidikan tanpa Allah dan pendidikan yang bersifat humanistik. Sedangkan pendidikan Kristen adalah pendidikan yang berpusat kepada Allah

Pikiran non Kristen tentang misteri: dari sudut pandang pengetahuan, filsafat pendidikan modern manusia harus mengandalkan potensinya sendiri. Realitas pada dasarnya bersifat irrasional, sehingga yang muncul hanya ketidakpastian dan ketakutan. Dalam hal ini teori pendidikan modern telah kehilangan arah sama sekali. Sebaliknya, kita dapat langsung melihat bahwa hanya konsep pendidikan Kristen yang benar-benar dapat disebut konsep pendidikan yang fungsional. Di dalamnya ada pengetahuan dan keyakinan.


Antitesis dalam Kurikulum

Pendidikan non Kristen menyusun kurikulum pengajaran tanpa referensi kepada Allah. Kurikulum berhubungan dengan fakta ruang dan fakta waktu, tetapi tanpa relasi dengan Allah, pengajaran demikian hanyalah suatu abstraksi atau merupakan fakta yang kosong. Pendidikan Kristen mendasarkan pengajaran dengan referensi kepada Allah. Dasar bagi keharusan sekolah Kristen berada pada keyakinan bahwa, tidak ada fakta yang dapat diketahui kecuali diketahui dalam relasinya dengan Allah. Ketika membicarakan kurikulum kita harus menekankan poin terpenting bahwa setiap fakta ruang waktu harus ditempatkan di hadapan pribadi Allah yang mutlak karena kita merasa bahwa, jika hal ini dipahami dengan jelas maka semua masalah lain dapat di atasi dalam terang pemahaman ini.


Antitesis mengenai Anak

Pandangan non Kristen menganggap anak sebagai pribadi yang terbatas ditempatkan di tengah atmosfer impersonal yang absolute. Klaim Kristen adalah bahwa pribadi yang terbatas tidak dapat berkembang kecuali di tempatkan di hadapan pribadi yang mutlak.Impersonalisme dalam filsafat pendidikan non Kristen mereduksi semua antitesis menjadi tidak ada dan mereduksi alam semesta menjadi alam semesta netral, di mana tidak ada yang akan terjadi. Seorang guru Kristen mengenal dirinya, mengetahui subjek yang diajarkan dan mengenal anak didiknya. Ia memiliki keyakinan penuh tentang buah pekerjaannya. Ia berjerih lelah untuk menghasilkan buah-buah yang kekal.


MENJADI REFORMED DALAM SIKAP KITA TERHADAP SEKOLAH KRISTEN


Perspektif Reformed tentang Pendidikan

Bila kita benar-benar reformed, kita harus berkata bahwa kehendak Allah harus menjadi penentu sikap kita terhadap sekolah Kristen, dan bahwa kehendakNya dinyatakan kepada kita dalam wahyu umumNya, tetapi lebih lagi dalam wahyu khususNya.


- Pendidikan dan Orang tua. Orang tua adalah yang paling bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya. Alkitab jelas menyatakan agar orang tua mendidik anak-anak di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Ef.6:4).

- Karakter religius dari Pendidikan. Firman Tuhan juga menunjukkan secara eksplisit bahwa pendidikan yang harus diberikan orang tua kepada anak-anaknya pada dasarnya harus bersifat religius (bnd. Kej. 18:19, Ams.22:6).

- Natur sejati dari Anak dan Pendidikan. Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah, dengan demikian, orang tua Kristen mempunyai alasan untuk menganggap anak-anaknya sebagai pembawa gambar Allah.

- Kesatuan Pendidikan. Kita selalu diingatkan akan fakta bahwa manusia yang seutuhnyalah yang dapat berpikir, berpersepsi, berkeinginan dan memiliki kehendak. Dengan demikian pendidikan anak seharusnya dianggap sebagai satu kesatuan proses. Orang Kristen Reformed, yang percaya bahwa anak adalah pembawa gambar Allah, secara alami akan menganggap bahwa semua kebenaran paling mendasar tidak boleh diabaikan dalam semua bagian pendidikannya, terutama dalam pendidikan di sekolah.


Ulasan saya:

Pendidikan adalah salah satu hal terpenting dalam kehidupan setiap manusia. Gagalnya pendidikan juga merupakan kegagalan kehidupan dan masa depan. Profesor Louis Berkhof dan Profesor Cornelius Van Til, mencoba menyadarkan kita bahwa pendidikan Kristen bersifat antitesis terhadap pendidikan sekuler. Bukan hanya secara konseptual pendidikan ini bertolak belakang atau bersifat antitesis, tetapi itu berdampak sampai pada aplikasi pendidikan.

Jika pendidikan Kristen berbasiskan kebenaran firman Tuhan, maka pendidikan sekuler dibangun di atas pendekatan ateistik. Akibatnya, terjadi perbedaan konsep yang mutlak berbeda.

Antitesis pendidikan sekuler dan Pendidikan Kristen, yakni perbedaan asas/dasar, tujuan, arah serta standard pendidikan.

Dasar pendidikan dunia/sekuler adalah kekayaan atau materi, intelektual dan kebahagiaan dunia. Akibatnya menjadi materialistis atau orientasi duniawi. Pendidikan dunia sekuler sering kali berorientasi pada uang (profit oriented). Sedangkan dasar pendidikan Kristen adalah Allah sendiri. Dasar pendidikan Kristen adalah menggenapkan rencana Allah dalam kehidupan. Akibatnya menjadi berpusat pada Allah serta memiliki ketaatan spiritual.

Tujuan pendidikan non Kristen lebih mengarah ke perdagangan, materialistik dan bersifat kompetitif, akibatnya sering manipulatif dan sekuler. Sedangkan pendidikan Kristen bertujuan untuk mengembangkan kompetensi dan talenta yang Tuhan beri. Orientasinya kepada pribadi dan didasari oleh cinta kasih.

Pendidikan non Kristen mengarahkan anak untuk memenuhi tuntutan materi dan industri, sebagai akibatnya kelak menjadi budak dunia kerja atau budak industri. Orang-orang hanya memikirkan pekerjaan yang menghasilkan materi tanpa menyadari bahwa sebenarnya dia sudah diperalat atau diperbudak oleh pekerjaannya. Pendidikan Kristen mengarahkan anak untuk mengerti panggilan Tuhan atas dirinya, akibatnya menjadi manusia yang taat pada pimpinan Tuhan. Pekerjaan merupakan panggilan Tuhan dalam dirinya, sehingga melalui pekerjaannya dapat menjalankan mandat budaya.

Standard pendidikan non Kristen lebih melihat kepentingan dan tuntutan zaman, lokal dan kondisi tertentu, akibatnya anak kehilangan kebenaran dan acuan moral yang mutlak. Sedangkan standard pendidikan Kristen adalah agar anak hidup sesuai dengan karakter Allah sehingga bisa menjalankan kehendakNya. Sebagai akibatnya, anak akan berjuang mengerti kebenaran dan taat pada kekudusan Allah, serta melakukan sesuatu yang memuliakan Allah.


Pdt. Andi Silalahi

Soli Deo Gloria.

Sabtu, 08 Agustus 2009

SEJARAH KEPENDIDIKAN KRISTEN

SEJARAH KEPENDIDIKAN KRISTEN DALAM GEREJA


Sejarah adalah perhitungan peristiwa-peristiwa yang sistematis. Seseorang yang sangat berhubungan dengan masa kini dan masa depan pasti mempunyai kesadaran, pengertian dan penghargaan terhadap peristiwa-peristiwa yang sudah lalu. Trumbul menekankan bahwa sejak permulaan, sepanjang abad sejarah gereja Kristen memperlihatkan bahwa perkembangan keanggotaan gereja, serta pendewasaan orang-orang Kristen di dalam pengertian dan ketaatan firman Allah tergantung pada penekanan pendidikan Kristen dalam gereja. Sebaliknya, bilamana sekolah minggu atau organisasi pendidikan Kristen gerejani telah diabaikan, maka gereja gagal untuk menopang dan melanjutkan kekuatan rohani dari keanggotaannya. Dukungan yang begitu kuat terhadap fungsi pendidikan mendorong sejarawan Clarence Benson untuk menyatakan bahwa: Perkembangan dan keabadian kekristenan bergantung kepada program pendidikan. Sejarah menegaskan nilai pendidikan.

Pendidikan Kristen dalam Perjanjian Baru

Pendidikan agama dalam PB tidak terlepas dari pendidikan agama dalam PL. Tema pokok pengajaran agama dalam PL dan PB adalah karya penyelamatan manusia berdosa oleh Allah. Dalam PL karya tersebut dinyatakan pengajaran tentang hukum-hukum Allah dan kurban (yang sesungguhnya merupakan bayang-bayang dari penyelamatan manusia oleh Allah dalam Yesus Kristus). Dalam PB, pengajaran dinyatakan oleh pribadi Kristus, Tuhan dan Jurusemat. Dengan demikian pendidikan agama dalam PL dan PB mempunyai pusat pengajaran pada satu pribadi, yaitu Kristus.[1] Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan dua pribadi yang sangat menekankan PAK yaitu Tuhan Yesus dan Paulus, serta contoh Jemaat mula-mula.


1. Tuhan Yesus.

Pendidikan agama dalam PB mengalami revolusi besar dengan munculnya pengajaran Kristus. Tuhan Yesus adalah pakar dan ahli mengajar, oleh karena itu diri-Nya dikenal Guru Agung melebihi guru-guru Yahudi dan filsuf-filsuf dunia lainnya. Tidwell mengungkapkan empat kategori pengukuhan diri Yesus sebagai pengajar Agung, yaitu: (1). Yesus sendiri menyatakan diri-Nya guru (Yoh. 13:13). (2). Teman-teman, pengikut-pengikut, dan musuh-musuh-Nya menyatakan Yesus adalah guru (Luk. 1:1; Mark. 4;38; Yoh. 3:2; Mat. 22:24; Mark. 9:17; 12:13-14, 32; Luk. 12:13; 19:39). (3). Yesus mengajar dengan baik sekali. Dia adalah pakar dalam seni mengajar. (4). Yesus menugaskan pengikut-pengikut-Nya untuk mengajar (Mat. 28:18-20).[2]

Inti pengajaran Yesus berpusatkan pada diri-Nya sendiri (Yoh. 14:6). Oleh karena itu Yesus sering menggunakan kata “eimi atau Aku”, yaitu Akulah roti hidup ( Yoh. 6:48,50), Akulah terang dunia (Yoh. 8:12), Akulah gembala yang baik (Yoh. 10:11), dan Akulah kebangkitan dan hidup (Yoh. 11:25).

PAK di dalam PB tidak terlepas dari Yesus Kristus di samping jabatan-Nya sebagai penebus dan pembebas, Tuhan Yesus juga menjadi Guru yang agung. Keahlian-Nya sebagai seorang guru umumnya diperhatikan dan dipuji oleh rakyat Yahudi; mereka dengan sendirinya menyebut Dia “Rabi” yang merupakan gelar kehormatan, yang menyatakan betapa Ia disenangi dan dikagumi oleh orang-orang sebangsanya selaku pengajar yang mahir dalam segala ilmu ketuhanan (Mat. 7:29). Tuhan Yesus mengajar dimana saja: di atas bukit dari dalam perahu , di sisi orang sakit, di tepi sumur, di rumah yang sederhana, dan rumah orang kaya, di depan pembesar-pembesar agama dan pemerintah, dan bahkan sampai kayu salib sekalipun. pokoknya Tuhan Yesus tidak memerlukan sekolah atau gedung yang tertentu.

Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya tidak pula pada terbatas pada waktu-waktu tertentu. Siang malam, pada setiap saat, Ia bersedia menerangkan jalan keselamatan dan kerajaan sorga yang telah datang itu kepada siapa saja yang ingin belajar kepada-Nya. Cara mengajar-Nya sangat istimewa pula biasanya Tuhan Yesus tidak membentangkan suatu ajaran dengan menyuruh orang mempercayai itu tetapi Ia menolong mereka berpikir sendiri dan menarik kesimpulannya sendiri dari apa yang dijelaskanNya kepada mereka. Banyak metode yang dipakai-Nya, dan segala metode itu masih penting dan perlu dipelajari oleh semua guru agama masa kini. Adakalahnya Tuhan Yesus bercerita, menggunakan perumpamaan, mengajukan pertanyaan, diskusi, dan menggunakan contoh secara langsung (Mat. 19:13-15; Luk. 9:48. Dan yang paling pokok adalah seluruh kehidupan Tuhan Yesus sendiri merupakan model pengajaran sampai saat yang terakhir.

Paulus Lilik Kristianto mengatakan bahwa selama pelayanan Yesus di dunia ini, Ia memberi teladan dalam metode pengajaran-Nya untuk membangun kontak dengan para pendengar, terutama murid-murid-Nya. Metode-metode tersebut antara lain; memenangkan perhatian para pendengarnya, menggunakan pertanyaan-pertanyaan, menggunakan ilustrasi dan cerita, menggunakan ceramah dan khotbah, menggunakan benda atau objek, dan menggunakan model.



2. Rasul Paulus.

Pendidikan dan pengajaran Kristen pada zaman para Rasul dimulai dari peristiwa Pentakosta, yaitu tampilnya rasul Petrus sebagai pengkhotbah dan pengajar yang menghasilkan petobat baru tiga ribu orang. Mereka inilah merupakan jemaat yang pertama dan mendapat pengajaran dari para rasul (Kis. 2:42; 5:42). Tiga pokok utama pengajaran para rasul adalah panggilan iman, penjelasan tentang iman, dan pertumbuhan moralitas sebagai konsekuensi dari hidup dalam iman.[3]

Tokoh utama dari sekian rasul Kristus yang sangat dikenal sebagai pengajar ulung adalah Rasul Paulus. Tidwell memposisikan Paulus menempati tempat kedua dalam keagungan sebagai guru setelah Yesus, sang Guru Agung. Bagi pengikut-pengikut Yesus, dia adalah orang yang paling berpengaruh dengan beberapa alasan: 1). Sejak lahir Paulus mendapat kesempatan pendidikan (Kis. 21:39). 2). Paulus mempunyai pendidikan tinggi dibawah asuhan Gamaliel (Kis. 22:3), 3). Paulus merasa dia adalah seorang guru (Kis. 21:28), 4).Pengajaran Paulus berhasil (Kis.11:19-26). 5). Paulus mengajar di Synagoge (Kis. 13:14-52), 6). Paulus mengajar kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja. 6). Paulus memakai berbagai macam metode mengajar (diskusi (Kis 13;14-520), 7). Paulus mengingatkan para gembala sidang untuk mengajar (1 Tim. 3:2, 2 Tim. 2:2, 4:2). 8). Paulus setia mengajar dalam seluruh masa pelayanannya (2 Tim. 4:1-11).[4]

Oleh karena itu Rasul Paulus juga adalah seorang guru yang ulung. Ia benar-benar tokoh penting dalam lapangan pendidikan agama Yahudi dan Kristen. Paulus sendiri dididik untuk menjadi seorang “rabi” bagi bangsanya. Ia mahir dalam pengetahuan akan Taurat dan ia juga dilatih untuk mengajar orang lain tentang agama Yuhudi. Setelah Tuhan masuk kehidupannya, Paulus menjadi seorang hamba Tuhan yang terdorong oleh hasrat yang berapi-api untuk memasyurkan nama Tuhan Yesus itu. Kemana ia pergi, segala kesempatan dipergunakannya untuk mengajar orang Yahudi dan kaum kafir tentang kehidupan bahagia yang terdapat di dalam Injil Yesus Kristus. Paulus berkhotbah di hadapan imam-imam dan rabi-rabi Yahudi, dan dihadapan rakyat jelata di segala kota dan desa yang dikunjunginya. Ia mengajar raja-raja dan wali-wali negeri, orang cendikiawan dan kaum budak, kaum laki-laki dan kaum perempuan, orang Asia, orang Yunani, orang Romawi. Pendek kata segala golongan manusia yang ditemuinya. Paulus mengajar di rumah-rumah tempat ia menumpang, di gedung-gedung yang disewanya, di lorong-lorong kota atau di padang-padang. Ia juga mengajar melalui surat-surat kepada jemaat-jemaat Kristen. Dialah yang paling banyak menuliskan kitab-kitab di dalam PB yaitu sebanyak 13 kitab yang merupakan hasil dari pergumulannya menjadi pengajar. Dalam Efesus 4:11-15 tersirat bahwa PAK mempunyai dua tugas utama yaitu memperlengkapi orang-orang kudus supaya dapat melayani (menjangkau jiwa-jiwa bagi Kristus) dan pertumbuhan iman sehingga menuju kedewasaan penuh di dalam Kristus.

3. Jemaat Mula-mula.

Sejak mulai berdirinya, maka jemaat Kristen yang mula-mula menjunjung tinggi pengajaran agama. Seperti diketahui orang-orang Kristen muda itu mula-mula masih terpaut kepada adat agama Yahudi, tetapi lambat laun mereka mengembangkan perkumpulan-perkumpulannya sendiri. Di dalam perkumpulan itu mereka berdoa, berbicara tentang pengajaran dan perbuatan-perbuatan Tuhan Yesus, makan sehidangan, dan merayakan perjamuan suci (Kis. 2:41-47;4:23-37). Di dalam jemaat mula-mula kita mengenal para pengajar yang sering disebut soko guru, diantaranya murid-murid Tuhan Yesus; Simon Petrus, Yohanes, Yakobus, Paulus, dan pengajar-pengajar lainnya (Kis.13:1-3).

Kekristenan berkembang tahap demi tahap dan secara misterius maju menuju ke barat sejak dimulainya dari Yerusalem ke Antiokhia ke Atena, Korintus dan Aleksandria dan akhrinya ke Roma dan Kartago. Dalam sejarah Kristen mula-mula, dalam kehidupan orang-orang yang pernah bersama Tuhan dan orang-orang lain yang menjadi teman-teman mereka. Pengajaran tetap menjadi tanggung jawab utama.

- Mereka mendidik melalui berkhotbah.

- Mereka mendidik melalui pengajaran. Dalam gereja mula-mula, pengajaran adalah pelengkap utama untuk menginjili.

- Mereka mendidik di dalam pertemuan-pertemuan yang mereka adakan, seperti dirumah-rumah.

- Mereka mendidik di dalam keluarga.

- Mereka mendidik melalui kebaktian-kebaktian

- Mereka mendidik di dalam sekolah-sekolah kateketikal, seperti sekolah Alexandria


Perkembangan Setelah jemaat mula-mula

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan Pendidikan Agama Kristen, maka penting bagi untuk mengetahui buah pikiran dari para tokoh-tokoh PAK mengenai PAK, yaitu:

a.

HiHeronimus (345-420), PAK adalah pendidikan yang tujuannya mendidik jiwa sehingga menjadi bait Tuhan. Haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di surga sempurna (Mat. 5:48). [5]

b.

AgAgustinus (345-430), PAK adalah pendidikan yang bertujuan mengajar orang supaya “melihat Allah” dan “hidup bahagia”. Dalam pendidikan ini para pelajar sudah diajar secara lengkap dari ayat pertama Kitab Kejadian “ Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” sampai “ arti penciptaan itu pada masa gereja sekarang ini”. Pelajaran Alkitab difokuskan pada perbuatan Allah.[6]

c.

EEErasmus (1400 -1500) seorang sarjana Belanda yang hidup pada abad ke 15 dan 16. Dia menterjemahkan PB dari bahasa Yunani. Dia menyatakan bahwa setiap orang harus diberi kesempatan untuk membaca Alkitab sendiri.

d.

MMartin Luther (1483-1548), PAK adalah pendidikan yang melibatkan warga jemaat untuk belajar teratur dan tertib agar semakin menyadari dosa mereka serta bersukacita dalam firman Yesus Kristus yang memerdekakan. Di samping itu PAK memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya yang berkaitan dengan dengan pengalaman berdoa, firman tertulis (Alkitab) dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat dan negara serta mengambil bagian dengan bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen.[7] Dia berkotbah dan sering menulis tentang pentingnya pendidikan. Dengan keras ia menegur para orang tua agar mereka mendidik anak-anaknya. Dia menantang pemerintah untuk mendukung program wajib belajar. Dia juga berkata, bahwa seseorang jangan menikah sampai mereka mampu untuk mengajar anak-anak mereka dalam keagamaan dan menjadikan mereka oang-orang Kristen sejati. Untuk Negara dia berpendapat bahwa Negara harus menjadi agen pendidikan yang memajukan pengajaran-pengajaran gereja.

e.

PPPhilip Melancthon memperbaiki pendidikan, dia mempengaruhi perkembangan universitas Wittenberg, di Jerman, selama 42 tahun dia bekerja di sana. Dia memperbaiki hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan, sedangkan Luther lebih khusus memperbaiki hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan. Philip menulis tata bahasa Latin, bersamaan dengan bahan bacaan dalam retorika, etika, dan theologia. Dia dianggap sebagai pendidik, maha guru Jerman. Sangat jelas dia adalah pemimpin kebangkitan Protestan dalam pendidikan yang terkenal.

f.

JJJhon Calvin (1509-1664), PAK adalah pendidikan yang bertujuan mendidik semua putra-putri gereja (kaum muda) agar mereka: 1). Terlibat dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dengan bimbingan Roh Kudus; 2). Mengambil bagian dalam kebaktian dalam puji-pujian dan memahami keesaan gereja; 3). Diperlengkapi untuk memilih cara mengejawantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa dan Yesus Kristus dalam pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah demi kemuliaan-Nya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus.[8] Jadi dapat disimpulkan rumusan PAK menurut Jhon Calvin adalah pemupukan akal orang-orang percaya dan anak mereka dengan Firman Allah dibawah bimbingan Roh Kudus melalui sejumlah pengalaman belajar yang dilaksanakan gereja, sehingga dalam mereka dihasilkan pertumbuhan rohani yang bersinambung yang diejawantahkan semakin mendalam melalui pengabdian diri kepada Allah Bapa Tuhan Yesus Kristus berupa tindakan-tindakan kasih terhadap sesamanya.[9]

g.

JJJohn Knox memprakarsai pendidikan hari Minggu. Dia berasal dari Skotlandia, menganjurkan agar kegiatan keagamaan pada hari Minggu seluruhnya dipusatkan pada kebaktian dan pendidikan. Knox juga menunjukkan bahwa ajaran-ajaran agama, prinsip-prinsip agama Kristen, harus diajarkan kepada anak-anak, pelayan-pelayan dan keluarga di dalam setiap rumah tangga. Dia memerintahkan kepala keluarga setiap rumah tangga untuk mengajar mereka yang ada di dalam rumah tangganya.


h. Ulrich Zwingli (Switzerland) mendukung pengindoktrinasian anak-anak. Dia percaya bahwa ketika kebenaran masuk ke dalam kesadaran orang-orang, maka kegiatan Iblis akan dihancurkan. Pendidikan harus bergantung pada Kitab Suci. Dia menulis buku berjudul ”Pendidikan Kristen untuk Kaum Muda”.


i. C.l.J. Sherrill (1892-1957), PAK adalah pendidikan yang bertujuan memperkenalkan Alkitab kepada pelajar, sehingga mereka siap menjumpai dan menjawab Allah, memperlancar komunikasi secara mendalam antarpribadi tentang keprihatinan insan serta mempertajam kemampuan menerima fakta bahwa mereka dikuasai kekuatan dan kasih Allah yang memperbaiki, menebus, dan menciptakan kembali.[10]

j. C

CCCampbell Wyckoff (1957), PAK adalah pendidikan yang menyadarkan setiap orang akan Allah dan kasih-Nya dalam Yesus Kristus, agar mereka mengetahui diri mereka yang sebenarnya, keadaannya, bertumbuh sebagai anak Allah dalam persekutuan Kristen, memenuhi panggilan bersama sebagai murid Yesus di dunia dan tetap percaya pada pengharapan Kristen.[11]

k.

EEE.G. Homrighausen, dalam Konfrensi Kajian PAK di Sukabumi (1955) arti yang sedalam-dalamnya dari PAK adalah bahwa dengan menerima pendidikan itu semua pelajar, muda dan tua memasuki persekutuan iman dan oleh dia terhisap pula pada persekutuan jemaat yang mengakui dan mempermuliakan nama-Nya di segala waktu dan tempat.[12]

l.

WWerner C. Graendorf (1976), PAK adalah proses pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan bergantung pada kuasa Roh Kudus yang membimbing setiap pribadi pada tingkat pertumbuhan, melalui pengajaran masa kini ke arah pengenalan dan pengalaman rencana dan kehendak Allah melalui Kristus dalam setiap aspek kehidupan, dan memperlengkapi mereka bagi pelayanan yang efektif, yang berpusat pada Kristus sang Guru Agung dan perintah yang mendewasakan para murid.[13]

m.

PPPaulus Lilik Kristianto, menyimpulkan definisi PAK menurut Werner C. Granedorf ke dalam tiga aspek utama PAK yaitu: 1. Aspek deskripsi PAK, yaitu PAK merupakan pengajaran dan pembelajaran berdasarkan Alkitab, berpusatkan Kristus, dan bergantung pada Roh Kudus. Pembelajaran berarti pembangunan pribadi menuju kedewasaan. Sedangkan pengajaran berarti penyandian dan dorongan bagi pembelajaran efektif. 2. Aspek fungsional PAK, yaitu PAK berusaha membimbing setiap pribadi ke semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran PAK masa kini. Proses PAK ditujukan kepada setiap pribadi seperti pelayanan Kristus (Yoh. 1:43).PAK berfungsi sebagai penyedia, pendorong, dan fasilitator dalam pembimbingan. 3. Aspek filosofi PAK, yaitu PAK merupakan pembelajaran dan pengajaran yang berpusatkan Kristus, sang Guru Agung, dan perintah untuk mendewasakan murid. Jadi dapat dikatakan PAK yang alkitabiah harus berdasarkan diri pada Alkitab sebagai firman Allah dan menjadikan Kristus sebagai pusat beritanya, dan harus bermuara pada hasilnya yaitu mendewasakan murid.[14]

n.

DDDewan Nasional Gereja-gereja Kristus di USA (1952), PAK adalah proses pengajaran agar pelajar yang semakin bertumbuh dan mempertimbangkan kehidupa sehari-hari. Dalam hal ini PAK memanfaatkan sumber pengalaman beragama yang diperoleh umat manusia sepanjang abad, agar menghasilkan gaya hidup kristiani.[15]

o.


SSSidang Raya Gereja Presbyterian USA (1947), PAK adalah pendidikan yang bertujuan mengajar jemaat untuk menjadi murid Yesus Kristus. Mereka diharapkan dapat menemukan kehendak Allah, kemudian melaksanakannya di lingkungan setempat, nasional, dan internasional.[16]

p. Gereja Kongregasional, Evangelikal, reformed bergabung USA (1957), PAK adalah pendidikan yang bertujuan membawa orang ke dalam persekutuan Kristen, membimbing dalam iman dan panggilan Kristen, supaya menerima pengampunan dan kekuatan bagi kehidupan baru dari Allah dengan ucapan syukur dan ketaatan serta dimampukan bertumbuh secara matang sebagai pribadi Kristen dan menjadi orang yang setia melaksanakan panggilan gereja.[17]

q. B

BBBS. Sidjabat dalam buku “Strategi Mengajar” boleh mengatakan bahwa PAK artinya merupakan usaha dasar yang bertujuan dan bersahaja untuk membimbing dan memperlengkapi tiap individu dan kelompok menuju kedewasaan khususnya dalam cara berfikir, sikap iman, dan tingkah laku, dengan demikian PAK menuntut pikiran atau pemahaman serta pengelolaannya khususnya oleh guru PAK di sekolah (Kol. 1:28-29).


r. DDaniel Nuhamara dalam buku “Pembimbing PAK” menjelaskan elemen-elemen penting dari arti dan hakikat PAK, yaitu:

1. PAK itu adalah suatu usaha pendidikan. oleh karena itu, ia merupakan usaha yang sadar, sistematis, dan berkesinambungan, apapun bentuknya,.

2. PAK juga merupakan pendidikan yang khusus yakni dalam dimensi religius manusia, yaitu pencarian dan pengekspresian akan kehendak Allah.

3. PAK menunjuk kepada persekutuan iman (Kristen) yang melakukan tugas pendidikan agamawi .

4. PAK sebagai usaha pendidikan bagaimanapun juga mempunyai hakikat politis, artinya dalam PAK tidak hanya ada intervensi dalam kehidupan individual seorang di bidang kerohaniannya saja, tetapi juga mempengaruhi cara dan sikap mereka ketika menjalani kehidupan dalam konteks hubungan-hubungan sosial kemasyarakatan.


Jadi dapat disimpulkan bahwa arti dari PAK adalah upaya yang dilakukan terus-menerus oleh siapapun (pribadi guru, keluarga, gereja, dan masyarakat) baik formal, non formal, dan informal dibawah pengaruh dan pimpinan Roh Kudus untuk mendidik, mengajar dan membentuk watak dan kepribadian seseorang sesuai dengan Alkitab agar mereka mengalami pertumbuhan dan kedewasaan dalam Kristus.



[1] Paulus Lilik Kristianto, ibid, hlm. 13.

[2] Tidwell, hlm. 11

[3] Paulus Lilik Kristianto, hlm. 17.

[4] Tidwell, hlm. 12-14

[5] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktik PAK dari Plato sampai Ig. Loyola, (Jakarta: BPK Gunung Mulia 2002), hlm. 111

[6] Ibid, hlm. 128

[7] Ibid, hlm. 342

[8] Ibid, hlm. 414

[9] Ibid, 314

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] E.G. Homrighausen, dan I.H. Enklaar, Ibid, hlm. 26

[13] Werner C. Graendorf, Introduction to Biblical Christian Education, Chicago: Moody Press, 1988), pg. 16

[14] Paulus Lilik Kristanto, Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: Andi, 2006), hlm. 5

[15] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktik PAK dari Yohanes Amos Comenius sampai Perkembangan PAK di Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia 2002), hlm. 530

[16] Ibid, hlm. 546

[17] Ibid, hlm.553

Jumat, 07 Agustus 2009

DOKTRIN KEDAULATAN ALLAH

DOKTRIN KEDAULATAN ALLAH DAN
Signifikansinya Terhadap Pendidikan Kristen

Allah orang Kristen adalah Allah yang berbeda dengan berbagai macam konsep tentang “Allah” yang dimiliki dan diajarkan oleh orang-orang yang non-Kristen. Ini bukan sekadar mengenai perbedaan konsep tetapi juga berdampak kepada implikasinya, termasuk ke dalam hal pendidikan. Kalau kita melihat di seluruh khasanah ke Kristenan dengan berbagai macam arus pemikiran theologia, tidak ada satu arus theologia pun yang mampu memiliki kekonsistenan dan kesistematisan presuposisi dalam menggarap keKristenan secara khusus di dalam dunia pendidikan Kristen yang berkaitan dengan doktrin Allah, kecuali hanya theologia Reformed. Theologia Reformed memiliki keunikan paradigma tersendiri dalam membangun presuposisi theologianya yaitu apa yang dikenal sebagai kedaulatan Allah (the sovereignty of God). Jika Allah bukan Allah yang Berdaulat, maka itu bukan Allah, tetapi dewa-dewi yang sendiri tidak hidup dan tidak kekal. Konsep tentang Allah yang berdaulat dapat saya bagi menjadi lima prinsip beserta implikasinya terhadap dunia pendidikan Kristen.

Pertama, Allah yang Berdaulat adalah Allah yang berada pada diri dan mutlak pada diri. Di luar diri Allah Trinitas yang berdaulat, mutlak tidak ada yang lain yang patut disamakan dengan-Nya dan bahkan Allah pun tidak mengenal ilah lain di luar diri-Nya yang mutlak (Yesaya 44:6-8). Jika demikian, berarti, Allah yang berdaulat adalah Allah yang berada pada diri (self-exist) dan cukup pada diri (self-sufficient), sehingga Ia tak perlu bergantung pada yang lain. Seorang apologet Reformed, Dr. Cornelius Van Til dalam bukunya The Defense of The Faith mengajarkan, “God’s sovereignty refers to the fact that there is no other ultimate power beside himself and that his holy plan for the world will prevail over all position against it.” (Van Til, The Defense of The Faith, halaman 11). Di sini, Dr. Van Til berusaha menggabungkan bahwa kedaulatan Allah itu sebagai suatu fakta, bukan sebuah konsep yang beride utopia. Apa bedanya ? Ketika kedaulatan Allah di mana Allah saja yang mutlak berdaulat hanya berada di tataran ide utopia, maka kita pasti lama-kelamaan akan melupakannya (take it for granted), karena itu hanya ide kosong manusia yang segera berakhir. Tetapi tidak demikian, Dr. Van Til mengatakan bahwa kedaulatan Allah itu sebagai suatu fakta, di mana mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, dengan kerendahan hati, manusia harus mengakui sebuah fakta bahwa Allah itu ada dan Dia berdaulat adanya. Ketika manusia enggan mengakui fakta ini, dengan sendirinya, mereka enggan mengakui keberadaan Allah dan otomatis mereka menjadi seorang atheis. Selain sebagai sebuah fakta, kedaulatan Allah menurut Dr. Van Til adalah Allah yang memiliki rencana yang kudus (His holy plan) bagi dunia ini yang tersebar luas. Di sini, Van Til menggabungkan dua prinsip yaitu Allah yang berdaulat adalah Allah yang berencana dan rencana-Nya adalah rencana yang kudus. Apa signifikansinya ? Kalau Allah yang berdaulat adalah Allah yang berencana dan rencana-Nya itu kudus berarti tak mungkin Allah itu bisa salah dan dapat mengubah rencana-Nya karena alasan apapun. Itulah sebabnya mengapa theologia Reformed/Calvinisme menolak ide dari “theologia” Arminian (Arminianisme) yang sebagian besar dianut oleh theologia Injili yang mengajarkan bahwa Allah memilih manusia setelah Ia mengetahui bahwa manusia tertentu akan mempercayai-Nya. Di sini, kelemahan fatal Arminianisme adalah Allah itu tidak berdaulat dan sepenuhnya bergantung pada belas kasihan manusia untuk mempercayai-Nya. Kalau konsep Allah ini benar, apa bedanya keKristenan dengan konsep Allah dalam agama-agama lain yang menunggu dibela oleh manusia (ingat peristiwa sekelompok partai agama tertentu di Indonesia yang marah-marah karena “nabi” mereka dihina) ?! Kalau Allah yang Berdaulat itu adalah Allah yang memiliki rencana, maka di dalam dunia pendidikan pun, Allah juga memiliki rencana-rencana yang indah bagi anak-anak kovenan-Nya, sehingga Ia akan senantiasa memimpin anak-anak kovenan-Nya menggenapi apa yang telah ditetapkan-Nya sebelum dunia dijadikan. Akibatnya, para anak kovenan-Nya yang dipimpin oleh Allah akan melihat suatu hasil pimpinan-Nya yang indah, baik, berharga dan memuliakan nama-Nya, serta para anak kovenan-Nya semakin sadar bahwa tanpa Allah, mereka tak mampu menentukan arah dan tujuan hidupnya, sehingga mereka akan semakin bergaul karib dengan Allah melalui membaca Firman, berdoa, dll. Jika konsep ini ditiadakan dari dunia pendidikan Kristen, maka anak-anak Kristen yang dididik akan kehilangan makna dan tujuan hidupnya. Akibatnya, mereka tidak lagi melibatkan Allah di dalam hidupnya dan ujung-ujungnya, mereka akan menentukan jalan hidup mereka sendiri, karena merasa bahwa diri mereka hebat dan pintar tanpa Allah, seperti yang dilakukan oleh banyak orang “Kristen” bahkan dosen/guru “Kristen” yang sudah berlagak pintar mengajar di sekolah “Kristen” tetapi tidak memiliki fondasi iman Kristen yang berbasiskan kedaulatan Allah untuk boleh menyinari berbagai macam ilmu pengetahuan yang salah.

Kedua, Allah yang Berdaulat adalah Sumber segala sesuatu. Ini berarti Allah yang Berdaulat bukan hanya hanya Dia saja yang berdaulat, tetapi Allah juga sekaligus sebagai Sumber segala sesuatu. Ketika kita berbicara mengenai Sumber, kita berbicara mengenai pusat. Seperti air yang mengalir pasti ada sumbernya dan ketika sumbernya itu mampet, maka air tidak dapat mengalir. Begitu pula halnya dengan Allah yang adalah Sumber segala sesuatu, di mana segala sesuatu harus bergantung kepada-Nya, karena dari Dia sajalah terdapat sumber hidup sejati. Ketika Allah menghembuskan nafas ke dalam hidung manusia, di situ kedaulatan Allah dinyatakan. Artinya, tanpa Allah yang berdaulat dan sebagai sumber nafas dan hidup, maka mustahil manusia bisa bernafas dan hidup. Selain sebagai sumber hidup, Allah juga adalah Sumber Kekudusan, karena Ia itu Mahakudus yang memanggil kita (umat pilihan Allah) yang berdosa untuk hidup kudus (1 Petrus 1:16 ; Imamat 11:44-45 ; 19:2). Demikian pula, ketika Amsal 1:7 (dijelaskan kembali di dalam Yakobus 1:5) berkata bahwa sumber segala pengetahuan/hikmat adalah ketika kita takut akan Tuhan, itu berarti kedaulatan Allah sedang dinyatakan di mana Allah itu adalah sumber segala hikmat bijaksana sejati. Di luar diri Allah, tak mungkin manusia berdosa mampu mengerti pengetahuan yang sejati dan bertanggungjawab. Ini sekali lagi bukan sekedar konsep, tetapi suatu realita. Kita melihat semakin banyak manusia yang mulai menyombongkan diri bahwa mereka bisa pandai tanpa Allah bahkan ada yang mengatakan bahwa agama dan science itu tidak ada hubungannya, semakin lama mereka tidak dapat hidup bijaksana, dan mereka lama-kelamaan akan meninggalkan Allah, serta hidup di dunia ini tambah lama tambah hancur karena terlepas dari sumber hidup dan bijaksana sejati. KeKristenan yang beres dan sejati tidak mau memisahkan Allah dan firman-Nya terlepas dari hidup sehari-hari. Kalau Allah sebagai sumber segala sesuatu, maka kita sebagai anak-anak Tuhan sejati pasti menggunakan Allah dan firman-Nya, Alkitab menjadi satu-satunya dasar pembentukan pemikiran Kristen yang bertanggungjawab, di mana dengan dasar itulah kita berhak menghakimi semua arus filsafat, ilmu pengetahuan dan agama manusia yang berdosa untuk nantinya kita kembalikan kepada Kristus. Di sini, saya mengaitkan konsep Allah sebagai sumber segala sesuatu dengan respon manusia berdosa yang sudah ditebus oleh Kristus dalam merealisasikan kedaulatan Allah di dalam hidup mereka sehari-hari. Selain itu, konsep Allah sebagai sumber segala sesuatu hendak mengajarkan bahwa kita sebagai anak-anak Tuhan sejati harus mengerti bahwa segala sesuatu itu dari Allah, oleh Allah dan bagi Allah, kemuliaan bagi-Nya selama-lamanya (Roma 11:36). Kalau kita mengatakan bahwa Allah sebagai Sumber segala sesuatu, kita sedang berbicara mengenai konsep Allah yang harus dipermuliakan karena karya-karya-Nya yang ajaib. Kalau kita bisa pandai, bijaksana, kaya, menaati Allah, dll, berarti itu semua anugerah Allah dan pertanggungjawabkanlah anugerah Allah itu bagi kemuliaan-Nya saja. Kembali, di sini, saya mengaitkan antara konsep anugerah Allah dan pertanggungjawaban (respon) manusia terhadap anugerah-Nya. Seorang Kristen yang hanya tahu konsep anugerah Allah, lalu memboroskan hidupnya dengan hidup sembrono seperti zaman gereja-gereja Lutheran (pada zaman dan setelah Dr. Martin Luther hidup) dengan pola hidup yang tidak beres (karena menyangka bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah), maka orang itu tidak mengerti benar apa artinya anugerah Allah itu. Anugerah Allah sejati mendorong kita bukan hanya sekedar menerimanya, tetapi mau memperkembangkan dan mempertanggungjawabkan anugerah Allah itu hanya untuk memuliakan-Nya. Jangan sekali-kali mengambil kemuliaan Allah bagi diri sendiri. Itu berdosa ! Demikian di dalam dunia pendidikan Kristen, pertama-tama kita harus menyadari bahwa segala pengetahuan sejati bisa didapatkan tatkala ketika kita takut akan Tuhan yang adalah Sumber Pengetahuan sejati dan ketika kita mendapatkan pengetahuan sejati marilah kita bersyukur atas anugerah-Nya dapat mengenal Allah yang sejati melalui dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kristus itulah Penyataan diri Allah secara khusus yang menyingkapkan kepada kita segala pengetahuan ilahi, karena Kristus sendiri adalah Allah, sehingga dengan pengetahuan sejati yang kita miliki, kita semakin memuliakan Allah Trinitas. Jikalau konsep ini ditiadakan dari pendidikan Kristen, akibatnya banyak anak Kristen tidak lagi mengerti sumber pengetahuan sejati yaitu takut akan Tuhan dan mereka akhirnya meninggalkan Allah ketika belajar di kampus/sekolah (karena banyak guru/dosen “Kristen” secara implisit maupun eksplisit mengajarkannya di dalam sekolah-sekolah “Kristen”), dan sebagai gantinya, psikologi, manajemen-manajemen dunia, dll lah yang menjadi sumber pengetahuan mereka, lalu terakhir, mereka akan semakin sombong dan egois bila telah memiliki segala ilmu pengetahuan (meskipun beberapa yang mereka pelajari ada prinsip-prinsip pengetahuan yang salah dan melawan Alkitab).

Ketiga, kedaulatan Allah berarti Allah itu Penentu segala sesuatu. Karena Allah yang berdaulat adalah Allah yang satu-satunya mutlak berdaulat dan sumber segala sesuatu, maka hanya Allah sajalah Penentu segala sesuatu. Di sini, kita melihat konsep sejarah dan dunia dapat dengan jelas diinterpretasikan dengan tepat melalui kacamata theologia Reformed. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengajarkan bahwa sejarah itu His-story atau cerita/kisah-Nya, di mana sejarah tidak pernah terlepas dari Allah dan kisah-Nya yang Ia telah tentukan. Sejarah harus berkait dengan Allah, tetapi ini tidak berarti seperti yang diajarkan oleh seorang “pendeta” penganut “theologia” religionum dari gereja Presbyterian di Taiwan, Choan Seng Song yang mengidentikkan sejarah dengan penyataan Allah. Sejarah tidak sama dengan penyataan Allah, karena menurut Pdt. Dr. Stevri Indra Lumintang di dalam bukunya Teologi Abu-abu (Pluralisme Agama), di dalam sejarah itu ada yang mengandung hal-hal yang jahat dari iblis, sehingga adalah tidak mungkin jika mengaitkan hal-hal yang dari iblis dengan penyataan Allah yang kudus. Konsep sejarah yang berkaitan dengan Allah (di mana Allah berada di atas sejarah atau memimpin sejarah menurut pernyataan Pdt. Dr. Stevri Indra Lumintang dalam bukunya) mengakibatkan kita dapat melihat perkembangan sejarah, bukan dari kacamata dunia psikologi apalagi ahli nujum, tetapi dari kacamata/sudut pandang kedaulatan Allah. Itulah sebabnya mengapa theologia Reformed dapat dikatakan theology from above, karena theologia Reformed melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah sebagai Penentu segala sesuatu. Di dalam dunia pendidikan Kristen pun, konsep ini dapat diintegrasikan ketika para dosen/guru Kristen yang sungguh-sungguh beriman di dalam Kristus mengajarkan konsep iman Kristen yang berbasiskan kedaulatan Allah, seperti Allah sebagai Pencipta, Penebus dan Penyempurna, lalu mereka diajarkan bagaimana kita dapat menebus waktu (redeeming the time) dan segala sesuatu yang berdosa untuk dipakai bagi kemuliaan-Nya, sebelum mereka memulai setiap pelajaran agar para anak kovenan-Nya mampu melihat segala ilmu pengetahuan yang berkembang dari kacamata firman Allah yang paling konsisten dan mutlak. Akibatnya, mereka dapat memilah-milah dengan sendirinya manakah ilmu pengetahuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab (untuk mereka pelajari dan taati) dan mana yang melawan Alkitab (untuk tetap mereka pelajari kelemahannya dan mereka buang) dengan tetap mengaitkan semua ilmu pengetahuan dengan Allah sebagai Pusat. Jika konsep ini ditiadakan dari pendidikan Kristen, maka seperti yang banyak kita perhatikan di zaman postmodern ini, banyak anak didik yang sebenarnya atheis murni tetapi tetap diselimuti jubah “Kristen” di dalam KTP mereka adalah mereka yang paling banyak berkompromi dengan semua arus dunia yang bahkan melawan Alkitab, misalnya, ikut-ikutan terlibat MLM (Multi Level Marketing), mau mengikuti acara seminar-seminar pengembangan diri dari para motivator (seperti Andrie Wongso yang adalah penganut Budhisme dengan filsafat Budhismenya yang dimasukkan ke dalam idenya “Success is My Right”), belajar psikologi untuk dapat mengetahui kepribadian orang lain yang sama-sama berdosa, dll.

Keempat, kedaulatan Allah berarti Allah itu Pemelihara segala sesuatu. Di dalam theologia Reformed, kita mengenal istilah providence of God, di mana Allah itu adalah Allah yang memelihara. Di sini, kita menentang konsep Deisme yang mengajarkan bahwa setelah mencipta, Allah tidak berhubungan dengan dunia ciptaan. Konsep pemeliharaan Allah ini mengajarkan beberapa hal. Pertama, berkaitan dengan hidup kita. Allah adalah Allah yang memelihara hidup kita sehingga kita tidak perlu kuatir akan hidup kita (Matius 6:25-32). Tidak berarti kita melemparkan tanggung jawab, karena Allah yang memelihara hidup kita, maka kita tidak perlu bekerja keras, yang penting hanya beriman bahwa Allah yang memelihara hidup kita. Ini pandangan yang keliru. Dengan jelas, di akhir Matius 6 (ayat 34b), Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kesusahan sehari cukuplah untuk sehari yang berarti kita tetap perlu berusaha keras di dalam hidup tetapi bukan sebagai motivasi dan tujuan utama dalam hidup, melainkan sebagai sebuah respon kita terhadap anugerah Allah dan pemeliharaan-Nya. Oleh karena itu, Ia mengajarkan bahwa kita harus pertama-tama mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Yunani : dikaiosune), setelah itu, segala kebutuhan dasar kita akan ditambahkan-Nya kepada kita. Kedua, berkaitan dengan keselamatan. Allah itu adalah Allah yang menganugerahkan keselamatan kita, dan secara otomatis Ia pula lah yang memelihara keselamatan kita sehingga kita sebagai anak-anak Tuhan yang telah dipilih-Nya tak mungkin binasa sampai selama-lamanya. Itulah sebabnya di dalam theologia Reformed, dikenal istilah Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang Kudus). Allah yang memelihara keselamatan manusia menandakan bahwa Allah itu Berdaulat dan tidak bisa digeser dan bergantung pada siapapun. Kelemahan fatal penganut Arminianisme yang mengatakan bahwa manusia yang sudah diselamatkan dapat jatuh lagi ke dalam dosa (alias murtad) adalah mereka tidak mengakui keberdaulatan Allah dan otomatis mengakui superioritas manusia melebihi Allah, tetapi herannya masih mengakui Allah yang beranugerah (hanya sebagai topeng untuk humanisme yang mereka tekankan). Banyak ayat Alkitab khususnya yang Tuhan Yesus ajarkan yang mengatakan bahwa anak-anak Tuhan tidak mungkin binasa selama-lamanya (atau tidak mungkin kehilangan keselamatan), misalnya di dalam Yohanes 3:16 ; 6:40, 44 ; 10:27-30, dan Rasul Paulus sendiri mengajarkan hal yang serupa di dalam Roma 8:33-39. Tetapi herannya, oleh penganut Arminianisme, ayat-ayat ini sengaja dilewatkan dan tidak ditafsirkan sebagaimana mestinya. Justru, pemeliharaan Allah ini merupakan suatu keistimewaan dan keunggulan Allah yang dipercayai oleh orang Kristen dibandingkan dengan konsep tentang ilah-ilah di dalam agama-agama lain. Contoh lain, Tuhan Yesus sendiri sebagai Allah berjanji bahwa Ia akan menyertai para murid sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20), di sini, kedaulatan Allah muncul di mana Ia memelihara para murid dengan penyertaan-Nya. Bandingkanlah superioritas perkataan Tuhan Yesus yang hidup ini dengan perkataan para pendiri agama, filsuf dan banyak pendidik/guru “Kristen” (yang sebenarnya atheis) yang sok tahu di abad postmodern ini ! Ketiga, berkaitan dengan dunia pendidikan Kristen, Allah yang memelihara segala sesuatu akan memelihara anak-anak kovenan-Nya berada di dalam jalur yang Ia telah tetapkan bagi mereka. Sehingga di dalam jalur providensia-Nya, anak-anak kovenan semakin lama semakin mengetahui dan mengenal arah dan tujuan hidup mereka (berada di dalam proses yang terus-menerus) sesuai dengan ketetapan-ketetapan-Nya (yang absolut dan kekal atau tidak berada di dalam proses). Di sini, saya mengaitkan konsep pendidikan Kristen (yang relatif/berada di dalam proses) dengan konsep kedaulatan Allah di mana Allah sebagai Pemelihara (yang kekal/tidak berada di dalam proses). Pendidikan Kristen harus berkaitan dengan konsep Pemeliharaan Allah, sehingga para anak kovenan dengan rendah hati meminta pimpinan-Nya dalam segala aspek kehidupan. Jika konsep ini ditiadakan, maka dapat dipastikan semua konsep pendidikan akan sirna dan hancur karena tidak berpaut kepada kekekalan untuk dapat menentukan kerelatifan dunia ini. Akibatnya, mereka akan meninggalkan Tuhan dengan tidak ingin nama Tuhan disebutkan di dalam setiap bidang kehidupan (seperti yang banyak saya temui di dalam diri baik mahasiswa maupun dosen-dosen yang mengklaim diri “Kristen”) di kampus “Kristen” Petra, Surabaya).

Kelima, Allah yang Berdaulat adalah Allah yang transenden dan sekaligus imanen (Immanuel). Ini adalah kesimpulan akhir dari konsep kita akan kedaulatan Allah yaitu Allah adalah Allah yang transenden dan sekaligus imanen. Allah yang transenden berbicara mengenai keMahakuasaan, keMahaadilan, keMahakudusan, kekekalan, kesempurnaan diri Allah yang tak mungkin disetarakan dengan makhluk ciptaan atau yang lain. Di sini, kita berbicara mengenai pribadi Allah yang melampaui ruang dan waktu. Dr. Van Til mengemukakan bahwa Allah yang kekal (infinity of God) yang termasuk atribut ketiga dari atribut-atribut Allah yang tidak dikomunikasikan kepada manusia adalah Allah yang tidak memiliki awal dan akhir atau urutan momen dalam keberadaan Allah (“By the term eternity we mean that there is no beginning or end or succession of moments in God’s being or consciousness (Psalm 90:2 ; 2 Pet. 3:8)”) (Van Til, The Defense of The Faith, halaman 10). Ketika berbicara kekekalan Allah dalam segi waktu, Van Til mengatakan bahwa Allah itu tidak memiliki awal dan akhir. Dengan kata lain, Allah yang kekal dalam segi waktu adalah Allah yang melampaui konsep waktu manusia yang terbatas (bedakan antara limited time versi manusia dengan unlimited time versi Tuhan Allah). Ketika kita dapat membedakan kedua hal ini, kita dapat mengerti mengapa Allah memerintahkan kita untuk memberitakan Injil meskipun Allah telah memilih sekelompok orang untuk diselamatkan di dalam Kristus. Kedua, ketika kita berbicara mengenai kekekalan Allah dalam segi tempat/ruang, menurut Van Til, “God is neither included in space nor absent from it.” (Van Til, The Defense of The Faith, halaman 10). Allah yang jauh melampaui ruang di mana manusia hidup, Ia juga tidak termasuk ke dalam ruang yang terbatas dan tidak pernah absen darinya. Selain kekekalan Allah yang melampaui ruang dan waktu, ketika berbicara mengenai ketransendenan Allah, kita juga berbicara mengenai keMahakudusan Allah. Allah yang Mahakudus tidak menginginkan manusia ciptaan-Nya hidup tidak kudus, oleh karena itu, Allah memilih dan memanggil anak-anak-Nya supaya mereka hidup kudus dan tak bercatat di hadapan-Nya (Efesus 1:4). Kemudian, ketransendenan Allah juga berbicara mengenai keMahaadilan Allah, di mana Ia berdaulat penuh sebagai Allah untuk menghukum barangsiapa yang melawan perintah-Nya. Di dalam keadilan-Nya, Allah juga adalah Allah yang Mahakasih. Di sini, kita dapat melihat suatu integrasi antara kedua natur Allah ini di dalam Yohanes 3:16-19, di mana pada ayat 16-18a boleh dikatakan sebagai wujud kasih Allah dengan mengutus Kristus untuk menebus dosa manusia pilihan-Nya dan barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak dihukum, sedangkan di ayat 18b-19 boleh dikatakan sebagai wujud keadilan Allah yang menghukum barangsiapa yang tidak percaya kepada Kristus. Allah kita bukan hanya transenden saja, seperti yang Deisme percayai. Tetapi Allah kita juga adalah Allah yang imanen, yang memelihara ciptaan-ciptaan-Nya. Di sini, kita membicarakan Allah yang kekal sedang intervensi di dalam dunia kesementaraan. Itulah Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 1:1) yang menggenapi Taurat dan kitab-kitab Perjanjian Lama. Kristus adalah Firman Allah yang adalah Allah sendiri menjelma menjadi manusia dan Ia rela membatas diri demi menebus dosa-dosa manusia. Allah yang imanen adalah Allah yang hadir di dalam dunia kesementaraan dan mempedulikan kita sebagai anak-anak-Nya. Inilah wujud kasih Allah. Puji Tuhan, Allah kita transenden dan sekaligus imanen, berbeda dengan konsep Deisme yang menekankan ketransendenan Allah dan membuang keimanenan Allah, dan konsep Pantheisme yang menekankan imanensi Allah (everything is god) dan membuang ketransendenan Allah. KeKristenan yang berdasarkan Alkitab harus menyeimbangkan kedua konsep ini. Tetapi sayangnya keKristenan dari sejarah gereja sampai dengan zaman postmodern terjebak ke dalam dua arus ekstrim. Ekstrim pertama menekankan bahwa Allah itu Mahaadil, Mahakudus, dan aspek ketransendenan-Nya lainnya. Itulah gereja Katolik Roma di abad 15 dan 16, di mana Dr. Martin Luther hidup dan memprotes keras ajaran-ajaran Katolik Roma. Ekstrim lainnya menekankan bahwa Allah itu begitu dekat, sehingga kita bisa berkomunikasi dengan-Nya. Inilah yang terjadi di beberapa kalangan gereja kontemporer yang terpengaruh gerakan Karismatik/Pentakosta yang diimport dari Gerakan Zaman Baru dan Pantheisme modern. Kelemahan ekstrim pertama, mereka membuang konsep bahwa Allah itu adalah Allah yang memelihara ciptaan-Nya dan dekat dengan manusia. Sedangkan, kelemahan ekstrim kedua adalah mereka menganggap Allah itu sahabat manusia dan melupakan bahwa Allah itu tetap adalah Tuhan yang patut dihormati dan disembah serta dipuji. KeKristenan yang benar mempercayai Allah itu adalah Allah yang Mahakudus, Mahakasih, Mahaadil, Kekal, Sempurna, Berdaulat (ketransendenan Allah), sekaligus sebagai Allah yang beserta dan dekat dengan kita (Immanuel/imanensi Allah). Di dalam dunia pendidikan Kristen, kita harus mengerti konsep ini dengan benar. Di mana ketika kita mengetahui bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang transenden sekaligus imanen itu membuat kita semakin gentar kepada-Nya sebagai Tuhan sekaligus Raja dan sekaligus kita semakin ingin bergaul karib dengan-Nya. Di sini, saya mengaitkan konsep pendidikan Kristen dengan konsep kehidupan Kristen di kemudian hari sebagaimana yang secara implisit diajarkan oleh Dr. Cornelius Van Til dalam artikelnya, “Iman : Iman dan Program Kita” di dalam buku Dasar Pendidikan Kristen.. Pendidikan Kristen tidak bisa dilepaskan dari kehidupan Kristen, karena pendidikan itu salah satu unsur penting di dalam kehidupan. Ketika pendidikan yang diterapkan kepada anak-anak adalah pendidikan yang salah, maka secara otomatis, kehidupan mereka akan berakhir sia-sia (meskipun ada beberapa dari antara mereka yang salah didik dapat bertobat dan kembali kepada Kristus dan Alkitab akibat pencerahan Roh Kudus). Demikian pula, ketika kita mengerti ketransendenan dan imanensi Allah, maka kita pun dapat mengerti diri Allah sesungguhnya dan kedekatan Allah dengan anak-anak-Nya. Konsep ketransendenan Allah mengakibatkan kita dengan rela hati mau tunduk dan mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Raja yang memimpin seluruh konsep pendidikan Kristen dan berdampak kepada kehidupan Kristen. Akibatnya, sebagaimana Amsal 3:6 katakan, maka janji Allah kepada mereka yang mengakui-Nya adalah Ia akan meluruskan jalannya (atau terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari, “maka Ia akan menunjukkan kepadamu cara hidup yang baik.”). Di sini, Alkitab ingin mengajarkan bahwa ketika kita mengakui-Nya sebagai Tuhan sebagai Kebenaran Absolut yang tak mungkin bersalah, maka Kebenaran yang Absolut itu akan memimpin kita yang relatif ke dalam jalan-jalan-Nya. Sebagai tambahan, kata “cara hidup” atau “hidup” baik di dalam Amsal 3:5, 6 diletakkan di dalam kitab Amsal yang mengajarkan tentang konsep hikmat bijaksana, maka dapat disimpulkan bahwa hikmat bijaksana atau pendidikan sejati yang berbijaksana berkaitan erat dengan kehidupan dan cara hidup. Konsep imanensi Allah dimengerti sebagai suatu respon anak-anak kovenan-Nya untuk mau bergaul karib dengan-Nya melalui membaca Alkitab, berdoa, dll agar mereka mengetahui kehendak-Nya di dalam hidup mereka sehingga mereka dapat mengerti konsep pengetahuan sejati (dengan berani menghakimi semua pengetahuan yang salah dengan dasar Alkitab yang jelas dan bertanggungjawab) dan akhirnya dapat memuliakan Allah melalui pengetahuan sejati yang mereka peroleh. Jika pendidikan Kristen meniadakan konsep ini, maka dapat dipastikan, anak-anak didik “Kristen” meskipun disekolahkan di sekolah “Kristen” (banyak yang tidak beriman Kristen) karena diajar oleh para pendidik “Kristen” (yang kebanyakan sudah menjadi atheis) akan memiliki pola pikir yang humanis materialis ditambah semangat egoisme yang tinggi yang anti-Allah dan Alkitab. Akibatnya, mereka bukan menjadi anak-anak yang bertanggungjawab dan bersumbangsih bagi Tuhan, gereja, masyarakat, bangsa dan negara, tetapi sebagai anak-anak yang merusak masyarakat.

Perjalanan Orang Percaya

EFESUS 5 : 1-18 Hidup adalah sebuah perjalanan. Biasanya ibu-ibu senang kalau sudah ngomong tentang jalan-jalan. Pertanyaannya, d...